Tampilkan postingan dengan label DZIKIR dan DOA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DZIKIR dan DOA. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Februari 2012

Makna dan Esensi Doa



Berdoa merupakan suatu ibadah, bahkan menjadi otaknya ibadah. Kenapa doa menjadi otaknya ibadah? Karena, dengan berdoa jelas sekali memperlihatkan penghambaan manusia kepada Allah. Dengan berdoa kepada Allah, maka terwujudlah: Allah, tempat meminta, tempat memohon, sedang si hamba adalah makhluk yang hina dan selalu dalam kekurangan.
Karena suatu ibadah, maka berdoa sangatlah dianjurkan (diperintahkan) oleh agama, walaupun doa tidak memerlukan suatu syarat dan rukun yang ketat, seperti halnya ibadah shalat, zakat, dan puasa.
Banyak firman Allah SWT. dan hadits Rasulullah SAW. yang menerengkan tentang doa dan merintahkan orang-orang beriman agar berdoa diantaranya adalah sebagai berikut:

Al-QuranSurat Al-A'râf ayat 55-56
Artinya: "Mohonlah (berdoalah) kamu kepada Tuhanmu dengan cara merendahkan diri dan cara halus, bahwasannya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas; dan janganlah kamu berbuat kebinasaan di bumi (masyarakat) setelah la baik; dan mohonlah (berdoalah) kamu kepada Allah dengan rasa takut dan loba (sangat mengharap); bahwasannya rahmat Allah itu sangat dekat kepada orang-orang, yang ihsan (Iman kepada Allah dan berbuat kebajikan)."


Surah Al-Baqarah ayat 186
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, maka sesungguhnya Aku sangat dekat (kepada mereka). Aku perkenankan doa orang-orang yang mendoa apabila ia memohon (mendoa) kepada-Ku. Sebab itu, hendaklah mereka memenuhi (seruan)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk."

Surah Al-Mu'min, ayat 60
"Dan berfirman Tuhanmu "Memohonlah (mendoalah) kepada-Ku, Aku pasti perkenankan permohonan (doa) mu itu."
Surah Al-A'râf, ayat 180:
"Dan Allah mempunyai nama-nama yang sangat indah (Al-Asmâ'u al-Husnâ), maka memohonlah kamu kepada-Nya dengan (menyebut) nama-nama itu."
Surah Al-Isrâ', ayat 110
"Katakanlah olehmu hai Muhammad: berdoalah (pujilah) akan Allah atau berdoalah (pujilah), akan Ar-Rahmân (Maha penyayang)."

Surah Yûnûs, ayat 10
"Doa (percakapan) mereka di dalamnya (surga), adalah Allâhumma (Mahasuci Engkau wahai Tuhan)."


Al-Hadits

Diriwayatkan dari Abû Dâud dan Al-Turmudzî
"Doa itu adalah lbadah.
Diriwayatkan dari Al-Turmudzî yang artinya sebagai berikut:
"Barangsiapa dibukakan pintu doa untuknya, berarti telah dibukakan pula untuknya segala pintu rahmat. Dan tidak dimohonkan kepaia Allah, yang lebih disukai-Nya selain daripada dimohonkan 'afiyah. Doa itu memberi manfaat terhadap yang telah diturunkan dan yang belum diturunkan. Dan tak ada yang dapat menangkis ketetapan Tuhan, kecuali Doa. Sebab itu berdoa kamu sekalian." (HR. Al-Turmudzî).
Diriwayatkan dari Al-Turmudzî

"Tiap Muslim di muka bumi yang memohonkan suatu permohonan kepada Allah, pastilah permohonannya itu dikabulkan Allah, atau dijauhkan Allah daripadanya sesuatu kejahatan, selama ia mendoakan sesuatu yang tidak membawa kepada dosa atau memutuskan kasih sayang." (HR Al-Thurmudzî).

Definisi Do'a
Dalam Al-Quran banyak sekali kata-kata do'a dalam pengertian yang bebeda. Abû Al-Qasim Al-Naqsabandî dalam kitab syarah Al-Asmâ'u al-Husnâ menjelaskan beberapa pengertian dari kata doa.
Pertama, do'a dalam pengertian "Ibadah." Seperti dalam Al-Quran surah Yûnûs ayat 106.
Artinya: "Dan janganlah kamu beribadah, kepada selain Allah, yaitu kepada sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfaat kepada engkau dan tidak pula mendatangkan madarat kepada engkau."

Maksud kata berdo'a di atas adalah ber-"ibadah" (menyembah). Yaitu jangan menyembah selain daripada Allah, yakni sesuatu yang tidak memberikan manfaat dan tidak pula mendatangkan madarat kepadamu.

Kedua, doa dalam pengertian "Istighatsah" (memohon bantuan dan pertolongan). Seperti dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 23 dibawah ini.
Artinya: "Dan berdo'alah kamu (mintalah bantuan) kepada orang-orang yang dapat membantumu."

Maksud kata ber-"doa" (wad'u) dalam ayat ini, adalah "Istighatsah" (meminta bantuan, atau pertolongan). Yaitu mintalah bantuan atau pertolongan dari orang-orang yang mungkin dapat membantu dan memberikan pertolongan kepada kamu.

Ketiga, Doa dalam pengertian "permintaan" atau "permohonan." Seperti dalam Al-Quran surah Al-Mu'minûn ayat 60
Artinya: "Mohonlah (mintalah) kamu kepada-Ku, pasti Aku perkenankan (permintaan) kamu itu."

Maksud kata "Doa" (ud'ûnî) dalam ayat ini adalah, "memohon" atau "meminta." Yaitu, mohonlah (mintalah) kepada Aku (Allah) nisscaya Aku (Allah) akan perkenankan permohonan (permintaan) kamu itu.

Keempat, Doa dalam pengertian "percakapan". Seperti dalam Al-Quran surah Yûnûs ayat 10 dibawah ini.
Artinya: "Doa (percakapan) mereka di dalamnya (surga), adalah Subhânakallâhumma (Mahasuci Engkau wahai Tuhan)."

Kelima, Doa dalam pengertian "memanggil." Seperti firman Allah dalam Al-Quran .
"Pada hari, dimana la mendoa (memanggil) kamu."Maksud kata "doa" (yad'û) dalam ayat ini adalah "memanggil." Yaitu, pada suatu hari, dimana la (Tuhan) menyeru (memanggil) kamu.

Keenam, Doa dalam pengertian "memuji." Seperti dalam Al-Quran surah Al-Isrâ' ayat 110
Artinya: "Katakanlah olehmu hai Muhammad: berdoalah (pujilah) akan Allah atau berdoalah (pujilah), akan Ar-Rahmân (Maha penyayang)."

Maksud kata "doa " (qulid'û) dalam ayat ini adalah "memuji". Yaitu, pujilah olehmu Muhammad akan Allah atau pujilah olehmu Muhammad akan Al-Rahmân.

Maka atas dasar uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa "doa" adalah ucapan permohonan dan pujian kepada Allah SWT. dengan cara-cara tertentu disertai kerendahan hati untuk mendapatkan kemaslahatan dan kebaikan yang ada disisi-Nya. Atau dengan istilah Al-Tîbî seperti dikutip Hasbi Al-Shidiq "do'a" adalah "Melahirkan kehinaan dan kerendahan diri serta menyatakan kehajatan (kebutuhan) dan ketundukan kepada Allah Swt."
Baca Selengkapnya....

Selasa, 14 Februari 2012

Makna dan Esensi Dzikir





اللّه SWT Berfirman :
ياأيّهاالذيْن أمنوااذْكراللّه ذكرا كثيْرا

Yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah kepada اللّه

dengan ingatan (dzikir) yang banyak”. (Al-Ahzab 41)

رسُوْلُ اللّه SAW bersabda :

ألا أنبّئكم بخير أعمالكم وأزْكاها عند ملككم وارفعها في درجاتكمْ وخير منْ إعطاءالذّهب والورق وأنتلقوا عدوّكم وتضْربوا أعْناقهم ويضْربوا أعْناقكم قالوا ماذاك يارسول اللّه قال ذكراللّه


Artinya ”Ingatlah, akan aku beri tahu kalian tentang sebaik-baik amal kalian,
paling suci dari amal kalian di sisi Raja kalian, dan paling tinggi untuk derajad
kalian, dan lebih baik daripada pemberian emas dan perak,
ataupun daripada engkau bertemu musuh kalian sehingga kalian memukul leher mereka atau mereka memukul leher kalian ?”

Para Sahabat bertanya, ”Apa itu wahai رسُوْلُ اللّه ?.
Beliau menjawab, ”Dzikrulloh”.

رسُوْلُ اللّه SAW bersabda :

لاتقوم الساعة على احد يقوال اللّه اللّه

”Hari kiamat tidak akan terjadi pada seseorang yang mengucapkan اللّه اللّه

رسُوْلُ اللّه SAW juga pernah bersabda :

لاتقوم الساعة حتّى لا يقال في الارض اللّه اللّه

”Kiamat tidak akan terjadi sehingga di bumi ini tidak ada
yang mengucapkan اللّه اللّه

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, ”Dzikir adalah rukun yang sangat kuat dalam perjalanan menuju Al-Haq, bahkan keberadaannya merupakan tiang. Seseorang tidak akan sampai menuju اللّه kecuali dengan melanggengkan dzikir.

Dzikir ada dua macam, dzikir lisan dan dzikir hati.
Dzikir lisan diperuntukkan bagi hamba yang mempergunakan kemampuannya sehingga menghantarkannya pada kelanggengan dzikir di dalam hati.
Dzikir lisan ini memiliki pengaruh kepada dzikir hati.
Jika seorang hamba berdzikir dengan lidah dan hatinya sekaligus,
maka dia adalah seorang ahli dzikir yang sempurna dalam sifat
dan keadaan perjalanan spiritualnya.

Syaikh Abu Ali Ad-Daqaq berkata, ”Dzikir menyebarkan kewalian.
Barang siapa menetapi dzikir maka dia akan dianugerahi penyebaran
dan jika ia melepas dzikirnya maka penyebaran kewalian akan dicabut darinya”.

Diceritakan bahwa Dalf As-Syibli dalam permulaan perjalanan sufinya
setiap hari menyerap sedikit demi sedikit dan mengendalikan nafsunya
dengan teguh supaya tidak terputus dari kontinuitas dzikir.
Jika sifat lupa memasuki hatinya, maka dia memukul nafsunya sampai pecah. Terkadang keteguhan ini lenyap sebelum menyentuh, terkadang pula ia memukul dinding pembatas dengan dua tangan dan dua kakinya.
Dikatakan, dzikir kepada اللّه dengan hati adalah pedang para murid.
Dengan pedang itu mereka berperang melawan musuh-musuh
dan menghalau beberapa penyakit yang mencoba mengganggunya.
Musibah ketika membayangi hamba dan sempat menggetarkan hatinya,
maka dia membatasinya dari semua yang dibencinya pada saat itu juga.

Muhammad Al-Washiti pernah ditanya tentang dzikir maka dijawab,
”Dzikir adalah keluar dari medan kelupaan menuju kepastian musyahadah
yang mampu mengalahkan tekanan ketakutan dan tarikan rasa cinta”.
Dzunun Al-Mishri berkata, ”Barang siapa ingat اللّه dengan ingatan yang hakiki,
maka dia pasti lupa segala sesuatu di sisi ingatan-Nya (dzikir kepada اللّه)
dan اللّه akan menjaganya dari segala sesuatu.
Baginya punya pengganti dari segala hal.

Abu Utsman pernah ditanya dari hal yang demikian, ”Kami berdzikir kepada اللّه tetapi tidak menemukan kemanisan di dalam hati kami”.
Kemudian dijawab,”Pujilah اللّه agar menghiasi diantara luka-lukamu
dengan ketaatan”.

Di dalam hadits yang masyhur رسُوْلُ اللّه SAW pernah bersabda, ”

إذَارأيْتم الْجنّة فارْتعوا بها قيْل له وما رياض الجنة فقال مجالس الذكر

Jika kamu melihat surga maka merumputlah. Ditanyakan kepada Beliau, “Apakah itu kebun surga ?”. Beliau menjawab, “’Majlis dzikir”.

Jabir bin Abdillah menceritakan, “Suatu hariرسُوْلُ اللّه SAW keluar menuju kami
lalu bersabda, “

يا أيّهاالنْاس ارتعوا فيْ رياض الجنّة قلنا يا رسول اللّه ما رياض الجنة قال مجالس الذّكر قال اغدوا وروْحواْ والذْكروا من كان يحبُّ أنْ يعْلم منزلته عنْد اللّه تعالى فلينظر كيف منْزلة اللّه تعالى عنده فانّ اللّه تعالى ينزل العبد حيْث أنزله منْ نفْسه

“Hai manusia merumputlah kalian semua di kebun surga.’
Kami bertanya, ‘Wahaiرسُوْلُ اللّه , apakah kebun surga itu ?’ Beliau menjawab,
‘Majlis dzikir. Makan pagilah kalian dengan dzikir,
makan sorelah kalian dengan dzikir.
Barang siapa ingin mengetahui kedudukannya di sisi اللّه
maka pandanglah bagaimana kedudukan اللّه di sisinya (di hatinya).
Sesunggguhnya اللّه turun pada hamba menurut turunnya hamba di sisi-Nya”.

Dalf As-Syibli mengatakan, “ Bukankah اللّه telah berfirman,
“Aku duduk di sisi orang yang mengingat-Ku. Apa yang kalian peroleh wahai manusia, dari majlis Al-Haqq ini ?”’.

As-Syibli kemudian mendendangkan sya’ir :

Saya ingat pada-Mu
Tidak, saya lupa pada-Mu sepintas
Apa yang lebih ringan dalam dzikir
Selain dzikir lidahku
Saya dengan tanpa cinta
Mati dari keinginan
Hati pergi tanpa arah menujuku
Berputar dari timur ke barat
Ketika cinta melihatku
Sesungguhnya Engkau hadir padaku
Saya menyaksikan-Mu ada
Di segala tempat
Saya berdialog dengan yang diadakan
Dengan tanpa ucapan
Saya melirik yang diketahui
Dengan tanpa pandangan

Diantara keistimewaan dzikir adalah tidak dibatasi waktu,
bahka tidak ada waktu melainkan seorang hamba diperintahkan berdzikir,
baik yang bersifat wajib maupun sunah.
sholat meski memiliki kedudukan sebagai ibadah yang paling mulia,
namun pada waktu-waktu tertentu tidak boleh dilakukan.
Sedangkan dzikir dilakukan sepanjang waktu dalam berbagai keadaan.
اللّه berfirman :

الّذين يذكرون اللّه قياماً وقعوْداَ وعلى جنوبهمْ

“Orang-orang yang mengingat اللّه baik dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring (Ali Imran 191).

Abu Bakar bin Furok mengatakan, “Posisi berdiri dengan kebenaran dzikir dan posisi duduk dengan menahan diri dari sikap berpura-pura (berdzikir).

Ustadz Abu Ali Ad-Daqaq pernah ditanya, “Apakah berdzikir atau berpikir yang lebih mulia ?”
“Apa yang terjadi pada Syaikh ?”
“Syaikh Abdurrohman menjawab, “Bagi saya, dzikir lebih sempurna
daripada berfikir karena اللّه Dzat Al-Haqq disifati dengan dzikir tidak dengan berfikir. Sesuatu yang menjadi sifat asli Al-Haqq adalah lebih sempurna dari sesuatu
yang dikhususkan oleh makhluk sebagai sifat Al-Haqq”.
Maka ustadz Abu Ali tersenyum membenarkan jawaban As-Syaikh.

Muhammad Al-Kattani mengatakan, “seandainya tidak ada ketentuan
yang mengatakan bahwa dzikir kepada-Nya adalah kewajiban terhadap saya, niscaya saya tidak mengingat-Nya sebagai pengagungan kepada-Nya
sebagaimana saya mengingat-Nya”.

Ustadz Abu Ali mendendangkan syair kepada teman-temannya :

Tidakkah saya jika mengingat-Mu
Selain keinginan mengusirku
Hatiku, rahasiaku, ruhku
Ketika mengingat-Mu
Sehingga seakan-akan mata-mata
Dari-Mu membisiku untuk-Mu
Celakalah
Dzikir adalah untuk-Mu semata.

Diantara keistimewaan dzikir adalah menjadikan diterimanya dzikir-dzikir yang lain.

Firman اللّه SWT :

فاذْكروْنِي اذْكركُمْ

Ingatlah Aku, maka aku akan mengingatmu (Al-Baqoroh 152)

Dalam suatu hadits disebutkan bahwa Jibril As pernah berkata kepadaرسُوْلُ اللّه SAW bahwa اللّه SWT berfirman “Aku memberi umatmu sesuatu yang belum pernah Aku berikan kepada umat-umat yang lain”.

“Apa itu wahai Jibril ?”
“Yaitu firman-Nya yang mengatakan, ‘(Karena itu) ingatlah kalian maka Aku akan mengingatmu (Al-Baqoroh 152). Tidak ada seorangpun selain umat ini yang pernah mengucapkannya.

Menurut penafsiran, ayat tadi bermakna bahwa malaikat selalu berkonsultasi dengan orang yang berdzikir ketika hendak mencabut nyawanya.

Di dalam sebagian kitab-kitab agama disebutkan bahwa
Nabi Musa AS pernah bertanya, “Wahai Tuhan, di mana Engkau berada ?”
“Di hati hamba-Ku yang beriman”.

Sufyan Atsauri pernah bertanya kepada Dzunun Al-Mishri
tentang dzikir lalu dijawab, “Dzikir adalah kegaiban orang yang berdzikir dari dzikir itu sendiri”. Kemudian beliau melantunkan sebuah syair :

Tidak, karena saya melupakan-MU
lebih banyak dari mengingat-Mu
Namun dengan itu lidahku mengalir.

Sahal bin Abdillah berkata, Tiada hari melainkan
Dzat Yang Maha Agung memanggil-manggil, “Wahai hamba-Ku,
kalian tidak pernah berlaku adil terhadap-Ku.
Engkau memohon kepada-Ku tetapi engkau pergi kepada selain-Ku.
Aku menghilangkan musibah-musibah darimu tetapi engkau memikul beban-beban kesalahan.
Wahai anak Adam, apa yang akan kamu katakan kelak ketika datang kepada-Ku ?”

Abu Sulaiman Ad-Daroni berkata, “Di surga terdapat lembah
yang subur.
Ketika seseorang berdzikir, maka para malaikat menanam pohon-pohon
di lembah itu.
Ketika sebagian malaikat berhenti, maka ditanyakan kepadanya,
“Mengapa kamu berhenti ?” lalu dijawab, “Kawanku (orang yang berdzikir) telah membuat badanku lelah dan payah ”.

Dikatakan bahwa mencari kelezatan yang hilang ada di dalam
tiga hal yaitu di dalam sholat, dzikir dan membaca Al-Qur’an. Sesungguhnya kalian pasti menemukannya karena jika tidak
maka ketahuilah bahwa pintu sedang ditutup.

Ahmad Al-Aswad bercerita, “Saya pernah bersama Ibrahim
Al-Khowas dalam suatu perjalanan.
Kami mendatangi suatu tempat yang di dalamnya banyak terdapat ular. Ketika tiba pada suatu pesisir pantai, Ibrahim merapatkan sampannya
lalu duduk dan sayapun ikut duduk.
Akhirnya malampun tiba, udara yang sangat dingin mendorong ular
keluar dari sarang mereka.
Binatang berbisa tersebut merayap kesana kemari untuk mencari
mangsa dan terus berjalan hingga mendekati kami.
Ibrahim berbisik kepadaku, ”berdzikirlah kepada اللّه”.
Sayapun mengucapkan dzikir, dan anehnya binatang-binatang tersebut menjauh.
Tidak berapa lama ular ular tersebut mendatangi kami, dan Ibrahim mengingatkan kami seperti semula, dan saya menurutinya
hingga pagi hari.
Setelah matahari cerah, dia berdiri dan berjalan,
kemudian saya ikut berdiri dan berjalan.
Baru beberapa langkah kami berjalan, tiba-tiba seekor ular besar jatuh
di bekas tempat duduk Ibrahim dalam keadaan tidur melingkar.
Sayapun berkata, “ alangkah pulas tidur ular ini”. Lalu dijawab Ibrahim, “Tidak, semenjak beberapa masa yang silam, saya tidak pernah tidur malam lebih nyaman daripada pagi ini “.

Dikatakan, “Barang siapa yang tidak merasakan kerasnya lupa,
maka dia tidak dapat merasakan manisnya dzikir.”
Sarry As- Saqothy berkata, Dalam sebagian kitab disebutkan,
“Jika mengingat-Ku lebih menguasai hamba-Ku, berarti dia rindu
kepada-Ku yang membuat Aku rindu kepadanya”.
Sarry mengatakan, “اللّه memberi wahyu kepada Dawud AS,
“Bersama-Ku, bergembiralah dan dengan mengingat-Ku,
bersenang-senanglah”.

Ahmad An-Nuri mengatakan, “Segala sesuatu memiliki siksaan,
dan siksaan bagi orang makrifat adalah keterputusannya dari dzikir”.
Di dalam kitab Injil disebutkan, “Ingatlah Aku ketika kamu marah,
maka Aku pasti mengingatmu ketika Aku marah.
Ridholah dengan pertolongan-Ku karena pertolongan-Ku lebih baik daripada pertolonganmu kepada dirimu sendiri”.

Seorang pendeta yahudi pernah ditanya, “Apakah tuan puasa ?”
“Saya puasa dengan mengingat-Nya, Jika saya mengingat
selain-Nya berarti saya telah berbuka”.

Seseorang yang mengabadikan hatinya dengan dzikir
maka setan yang mendekatinya pasti terbanting, sebagaimana manusia yang mendekati setan tanpa dzikir juga pasti terbanting.
Para setan bingung menyaksikan hal ini, mereka bermusyawarah,
“Apa yang dimilikinya ?” lalu dijelaskan, “Manusia telah menyentuhnya”.

Sahal bin Abdulloh mengatakan, “Saya tidak mengetahui maksiat yang lebih buruk melebihi lupa/lalai kepada Tuhan”.
Dinyatakan bahwa dzikir khofi (secara rahasia) tidak bisa diangkat
ke langit oleh para malaikat karena tidak tampak baginya.
Dzikir semacam ini merupakan rahasia antara seorang hamba dengan اللّه. Salah seorang ulama sufi menuturkan pengalaman anehnya.
Dia mengatakan, “Diceritakan kepada saya tentang seorang ahli dzikir
yang tinggal di sarang harimau, sayapun mendatanginya.
Di sana saya melihat dia sedang duduk berdzikir,
tiba-tiba seekor harimau menerkam dan berusaha merobek-robek badannya.
Dia pingsan dan sayapun pingsan, ketika dia sadar dan saya juga mampu berdiri, maka saya bertanya kepadanya, “Ada apa?”.
Diapun menjawab bahwa اللّه telah merobohkan harimau itu”.

Abdulloh Al- Jariri mengatakan, “Diantara sahabat-sahabat kami
ada seorang pria yang banyak mengucapkan اللّه..اللّه.
ketika dia berjalan di sela-sela barisan pohon kurma, tiba-tiba sebatang pohon kurma tumbang dan menimpa kepala ahli dzikir tersebut.
kepalanya pecah dan darah mengalir dari sekujur tubuhnya.
Di tanah tertulis ribuan kata اللّه, اللّه dengan tinta darahnya”.
Baca Selengkapnya....

Ratib Al-Haddad


Ratib Al-Haddad

Ratib Al-Haddad ini mengambil nama sempena nama penyusunnya, iaitu Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal. Daripada doa-doa dan zikir-zikir karangan beliau, Ratib Al-Haddad lah yang paling terkenal dan masyhur. Ratib yang bergelar Al-Ratib Al-Syahir (Ratib Yang Termasyhur) disusun berdasarkan inspirasi, pada malam Lailatul Qadar 27 Ramadhan 1071 Hijriyah (bersamaan 26 Mei 1661).

Ratib ini disusun bagi menunaikan permintaan salah seorang murid beliau, ‘Amir dari keluarga Bani Sa’d yang tinggal di sebuah kampung di Shibam, Hadhramaut. Tujuan ‘Amir membuat permintaan tersebut ialah bagi mengadakan suatu wirid dan zikir untuk amalan penduduk kampungnya agar mereka dapat mempertahan dan menyelamatkan diri daripada ajaran sesat yang sedang melanda Hadhramaut ketika itu.

Pertama kalinya Ratib ini dibaca ialah di kampung ‘Amir sendiri, iaitu di kota Shibam setelah mendapat izin dan ijazah daripada Al-Imam Abdullah Al-Haddad sendiri. Selepas itu Ratib ini dibaca di Masjid Al-Imam Al-Haddad di Al-Hawi, Tarim dalam tahun 1072 Hijriah bersamaan tahun 1661 Masehi. Pada kebiasaannya ratib ini dibaca berjamaah bersama doa dan nafalnya, setelah solat Isya’. Pada bulan Ramadhan ia dibaca sebelum solat Isya’ bagi mengelakkan kesempitan waktu untuk menunaikan solat Tarawih. Mengikut Imam Al-Haddad di kawasan-kawasan di mana Ratib al-Haddad ini diamalkan, dengan izin Allah kawasan-kawasan tersebut selamat dipertahankan daripada pengaruh sesat tersebut.

Apabila Imam Al-Haddad berangkat menunaikan ibadah Haji, Ratib Al-Haddad pun mula dibaca di Makkah dan Madinah. Sehingga hari ini Ratib berkenaan dibaca setiap malam di Bab al-Safa di Makkah dan Bab al-Rahmah di Madinah. Habib Ahmad bin Zain Al-Habsyi pernah menyatakan bahawa sesiapa yang membaca Ratib Al-Haddad dengan penuh keyakinan dan iman dengan terus membaca “ La ilaha illallah” hingga seratus kali (walaupun pada kebiasaannya dibaca lima puluh kali), ia mungkin dikurniakan dengan pengalaman yang di luar dugaannya.

Beberapa kebezaan boleh didapati di dalam beberapa cetakan ratib Haddad ini terutama selepas Fatihah yang terakhir. Beberapa doa ditambah oleh pembacanya. Al Marhum Al-Habib Ahmad Masyhur bin Taha Al-Haddad memberi ijazah untuk membaca Ratib ini dan menyarankannya dibaca pada masa–masa yang lain daripada yang tersebut di atas juga di masa keperluan dan kesulitan. Mudah-mudahan sesiapa yang membaca ratib ini diselamatkan Allah daripada bahaya dan kesusahan. Ameen.

Ketahuilah bahawa setiap ayat, doa, dan nama Allah yang disebutkan di dalam ratib ini telah dipetik daripada Al-Quran dan hadith Rasulullah S.A.W. Terjemahan yang dibuat di dalam ratib ini, adalah secara ringkas. Bilangan bacaan setiap doa dibuat sebanyak tiga kali, kerana ia adalah bilangan ganjil (witir). Ini ialah berdasarkan saranan Imam Al-Haddad sendiri. Beliau menyusun zikir-zikir yang pendek yang dibaca berulang kali, dan dengan itu memudahkan pembacanya. Zikir yang pendek ini, jika dibuat selalu secara istiqamah, adalah lebih baik daripada zikir panjang yang dibuat secara berkala atau cuai[1]. Ratib ini berbeza daripada ratib-ratib yang lain susunan Imam Al-Haddad kerana ratib Al-Haddad ini disusun untuk dibaca lazimnya oleh kumpulan atau jamaah. Semoga usaha kami ini diberkahi Allah.




الراتب الشهير

للحبيب عبد الله بن علوي الحداد

Ratib Al Haddad



Moga-moga Allah merahmatinya [Rahimahu Allahu Ta’ala]



يقول القارئ: الفَاتِحَة إِلَى حَضْرَةِ سَيِّدِنَا وَشَفِيعِنَا وَنَبِيِّنَا وَمَوْلانَا مُحَمَّد صلى الله عليه وسلم - الفاتحة-

Bacalah Al-Fatihah kepada ketua, penyshafaat, nabi dan penolong kita Muhammad s.a.w



1. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. اَلرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ. ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ إِيِّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ. اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ. صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِّيْنَ. آمِيْنِ



1. Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.

Segala puji bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbir sekalian alam. Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani. Yang Menguasai hari Pembalasan (hari Akhirat). Engkaulah sahaja (Ya Allah) Yang Kami sembah, dan kepada Engkaulah sahaja kami memohon pertolongan. Tunjuklah kami jalan yang lurus. Iaitu jalan orang-orang yang Engkau telah kurniakan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) orang-orang yang Engkau telah murkai, dan bukan pula (jalan) orang-orang yang sesat.



Diriwayatkan oleh Abu Sa’id ibn al-Mu’lla r.a.: “Sukakah kamu jika aku ajarkan sebuah Surah yang belum pernah diturun dahulunya, baik dalam Injil mahupun Zabur dan Taurat? Ia adalah Al-Fatihah.

Surah 15 Al-Hijr : Ayat 87: “Dan sesungguhnya Kami telah memberi kepadamu (wahai Muhammad) tujuh ayat yang diulang-ulang bacaannya dan seluruh Al-Quran yang amat besar kemuliaan dan faedahnya.”



2. اَللهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لاَ تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّموَاتِ وَمَا فِي الأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلاَ يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلاَّ بِمَا شَآءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ.



2. Allah, tiada Tuhan melainkan Dia, Yang Tetap hidup, Yang Kekal selama-lamanya. Yang tidak mengantuk usahkan tidur. Yang memiliki segala yang ada di langit dan di bumi. Tiada sesiapa yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan izin-Nya. Yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun dari ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki. Luasnya Kursi Allah meliputi langit dan bumi; dan tiadalah menjadi keberatan kepada Allah menjaga serta memelihara keduanya. Dan Dialah Yang Maha Tinggi, lagi Maha Besar.

(Surah 2 al-Baqarah Ayat 255 Ayat-al-Kursi)



Ayatul Kursi ini mengandungi khasiat yang besar. Terdapat 99 buah hadith yang menerangkan fadhilahnya. Di antaranya ialah untuk menolak syaitan, benteng pertahanan, melapangkan fikiran dan menambahkan iman.





3. آمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّه وَالْمُؤْمِنُوْنَ كُلٌّ آمَنَ بِاللهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لاَ نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْناَ وَأَطَعْناَ غُفْراَنَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيْرُ.



3. Rasulullah telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan juga orang-orang yang beriman; semuanya beriman kepada Allah, dan Malaikat-malaikatNya, dan Kitab-kitabNya, dan Rasul-rasulNya. (Katakan): “Kami tidak membezakan antara seorang rasul dengan rasul-rasul yang lain". Mereka berkata lagi: Kami dengar dan kami taat (kami pohonkan) keampunanMu wahai Tuhan kami, dan kepadaMu jualah tempat kembali”

(Surah 2: Al Baqarah Ayat 285)



Diriwayatkan daripada Abu Mas'ud al-Badri r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah, memadai kepada seseorang yang membacanya pada malam hari sebagai pelindung dirinya.











4. لاََ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَآ إِنْ نَسِيْنَآ أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنآ أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْناَ عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ.



4. Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala atas kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa atas kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): "Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami ! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir”

(Surah 2: al-Baqarah Ayat 286)



Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah ibn Abbas r.a.: Apabila Jibril sedang duduk dengan Rasulullah s.a.w., dia mendengar bunyi pintu di atasnya. Dia mengangkat kepalanya lalu berkata: “Ini ialah bunyi sebuah pintu di syurga yang tidak pernah dibuka.” Lalu satu malaikat pun turun, dan Jibril berkata lagi, “Ia malaikat yang tidak pernah turun ke bumi” Malaikat itu memberi salam lalu berkata, “Bersyukurlah atas dua cahaya yang diberi kepadamu yang tidak pernah diberi kepada rasul-rasul sebelummu-“Fatihat al-Kitab dan ayat penghabisan Surah al-Baqarah”. Kamu akan mendapat manfaat setiap kali kamu membacanya.





5. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيْتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. (3X)

5. Tiada Tuhan Melainkan Allah, Yang satu dan tiada sekutu bagi- Nya. Bagi-Nya segala kekuasaan, dan bagi-Nya segala pujian. Dialah yang menghidupkan dan yang mematikan, dan Dia sangat berkuasa atas segala sesuatu (3X)



Dari Bukhari, Muslim dan Malik, diriwayatkan daripada Abu Hurairah; Rasulullah s.a.w berkata, “Sesiapa membaca ayat ini seratus kali sehari, pahalanya seperti memerdekakan sepuluh orang hamba, Seratus kebajikan dituliskan untuknya dan seratus keburukan dibuang darinya, dan menjadi benteng dari gangguan syaitan sepanjang hari.”





6. سٌبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اْللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ. (3X)

6. Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Tuhan Yang Maha Besar. (3X)



Dari Muslim, diriwayatkan oleh Samurah ibn Jundah: Rasulullah s.a.w bersabda: Zikir-zikir yang paling dekat di sisi Allah adalah empat, iaitu tasbih, takbir, tahmid dan tahlil, tidak berbeza yang mana aturannya apabila engkau berzikirullah.

7. سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحاَنَ اللهِ الْعَظِيْمِ. (3X)

7. Maha suci Allah segala puji khusus bagi-Nya, Maha suci Allah Yang Maha Agung. (3X)



Dari Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a.: Rasulullah s.a.w. bersabda: Dua zikir yang mudah di atas lidah tetapi berat pahalanya dan disukai oleh Allah ialah: 'SubhanAllah al-Azim dan 'SubhanAllah wa bihamdihi.'”





8. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ. (3X)

8. Ya Allah ampunlah dosaku dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang. (3X)



Surah 4: An-Nisa’; Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon ampun kepada Allah; kerana sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.

Sila rujuk juga Surah 11: Hud; Ayat 90





9. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ. (3X)

9. Ya Allah, cucurkan selawat ke atas Muhammad, Ya Allah, cucurkan selawat ke atasnya dan kesejahteraan-Mu. (3X)



Surah 33; Al-Ahzab, Ayat 56: Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya berselawat ke atas Nabi; wahai orang-orang yang beriman berselawatlah kamu kepadanya serta ucapkanlah salam dengan penghormatan yang sepenuhnya.

Dari Muslim, diriwayatkan daripada Abdullah bin Amr: Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa berselawat kepadaku sekali, Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali.

10. أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّآمَّاتِ مِنْ شَرِّمَا خَلَقَ. (3X)

10. Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya. (3X)



Dari Abu Dawud dan Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesiapa yang membaca doa ini tiga kali, tiada apa-apa malapetaka akan terjatuh atasnya.”





11. بِسْـمِ اللهِ الَّذِي لاَ يَضُـرُّ مَعَ اسْـمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي الْسَّمَـآءِ وَهُوَ الْسَّمِيْـعُ الْعَلِيْـمُ. (3X)

11. Dengan nama Allah yang dengan nama-Nya tiada suatu pun, baik di bumi mahupun di langit dapat memberi bencana, dan Dia Maha Mendengar Lagi Maha Mengetahui. (3X)



Dari Ibn Hibban; Nabi Muhammad s.a.w bersabda: “Hamba-hamba Allah yang membaca doa ini pada waktu pagi dan petang tiga kali, tiada apa jua kesakitan akan dialaminya.”





12. رَضِيْنَـا بِاللهِ رَبًّا وَبِالإِسْـلاَمِ دِيْنـًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيّـًا. (3X)

12. Kami redha Allah sebagai Tuhan kami, Islam sebagai Agama kami dan Muhammad sebagai Nabi kami. (3X)



Surah 3: Ali-Imran Ayat 19: Sesungguhnya agama (yang benar dan diredai) di sisi Allah ialah Islam.

Dari Abu Daud dan Tirmidzi; Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Sesiapa membaca ayat ini di pagi dan petang hari akan masuk ke syurga.”





13. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَالْخَيْرُ وَالشَّـرُّ بِمَشِيْئَـةِ اللهِ. (3X)

13. Dengan Nama Allah, segala pujian bagi-Nya, dan segala kebaikan dan kejahatan adalah kehendak Allah. (3X)



Diriwayatkah oleh Abu Hurairah: Rasulullah s.a.w. bersabda: Wahai Abu Hurairah, bila kamu keluar negeri untuk berniaga, bacakan ayat ini supaya ia membawa kamu ke jalan yang benar. Dan setiap perbuatan mesti bermula dengan ‘Bismillah’ dan penutupnya ialah “Alhamdulillah”.





14. آمَنَّا بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ تُبْناَ إِلَى اللهِ باَطِناً وَظَاهِرًا. (3X)

14. Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, dan kami bertaubat kepada Allah batin dan zahir. (3X)



Surah at-Tahrim Ayat 8: Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kamu kepada Allah dengan “Taubat Nasuha”.

Diriwayatkan oleh Ibn Majah: Rasulullah bersabda: Orang yang bertaubat itu adalah kekasih Allah. Dan orang yang bertaubat itu ialah seumpama orang yang tiada apa-apa dosa.”





15. يَا رَبَّنَا وَاعْفُ عَنَّا وَامْحُ الَّذِيْ كَانَ مِنَّا. (3X)

15. Ya Tuhan kami, maafkan kami dan hapuskanlah apa-apa (dosa) yang ada pada kami. (3X)



Dari Tirmidhi dan Ibn Majah: Rasulullah s.a.w. berada di atas mimbar dan menangis lalu beliau bersabda: Mintalah kemaafan dan kesihatan daripada Allah, sebab setelah kita yakin, tiada apa lagi yang lebih baik daripada kesihatan

Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon keampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”





16. ياَ ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْراَمِ أَمِتْناَ عَلَى دِيْنِ الإِسْلاَمِ. (7X)

16. Wahai Tuhan yang mempunyai sifat Keagungan dan sifat Pemurah, matikanlah kami dalam agama Islam . (7X)



Sila rujuk ke no. 12. Moga-moga kita dimatikan dalam keadaan Islam.

Dan dari Tirmidhi, Rasulullah s.a.w. menyatakan di dalam sebuah hadith bahawasanya sesiapa yang berdoa dengan nama-nama Allah dan penuh keyakinan, doa itu pasti dikabulkan Allah.



17. ياَ قَوِيُّ ياَ مَتِيْـنُ إَكْفِ شَرَّ الظَّالِمِيْـنَ. (3X)

17. Wahai Tuhan yang Maha Kuat lagi Maha Gagah, hindarkanlah kami dari kejahatan orang-orang yang zalim. (3X)



Seperti di atas (16); Merujuk hadith Rasulullah s.a.w, sesiapa yang tidak boleh mengalahkan musuhnya, dan mengulangi Nama ini dengan niat tidak mahu dicederakan akan bebas dari dicederakan musuhnya.





18. أَصْلَحَ اللهُ أُمُوْرَ الْمُسْلِمِيْنَ صَرَفَ اللهُ شَرَّ الْمُؤْذِيْنَ. (3X)

18. Semoga Allah memperbaiki urusan kaum muslimim dan menghindarkan mereka dari kejahatan orang-orang yang suka menggangu. (3X)



Diriwayatkan oleh Abu Darda’ bahawasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada seorang mukmin pun yang berdoa untuk kaumnya yang tidak bersamanya, melainkan akan didoakan oleh Malaikat, “Sama juga untukmu”.





19. يـَا عَلِيُّ يـَا كَبِيْرُ يـَا عَلِيْمُ يـَا قَدِيْرُ

يـَا سَمِيعُ يـَا بَصِيْرُ يـَا لَطِيْفُ يـَا خَبِيْرُ. (3X)

19. Wahai Tuhan Yang Maha Mulia, lagi Maha Besar, Yang Maha Mengetahui lagi Sentiasa Sanggup, Yang Maha Mendengar lagi Melihat. Yang Maha Lemah-Lembut lagi Maha Mengetahui (3X)



Surah 17: Al Israil: Ayat 110: “Katakanlah (wahai Muhammad): "Serulah nama “Allah” atau “Ar-Rahman”, yang mana sahaja kamu serukan; kerana Allah mempunyai banyak nama yang baik serta mulia. Dan janganlah engkau nyaringkan bacaan doa atau sembahyangmu, juga janganlah engkau perlahankannya, dan gunakanlah sahaja satu cara yang sederhana antara itu."


20. ياَ فَارِجَ الهَمِّ يَا كَاشِفَ الغَّمِّ يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَيَرْحَمُ. (3X)

20. Wahai Tuhan yang melegakan dari dukacita, lagi melapangkan dada dari rasa sempit. Wahai Tuhan yang mengampuni dan menyayangi hamba-hamba-Nya. (3X)



Dari Abu Dawud, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik: “Ketika saya bersama Rasulullah s.a.w., ada seseorang berdoa, “Ya Allah saya meminta kerana segala pujian ialah untuk-Mu dan tiada Tuhan melainkan-Mu, Kamulah yang Pemberi Rahmat dan yang Pengampun, Permulaan Dunia dan Akhirat, Maharaja Teragung, Yang Hidup dan Yang Tersendiri”.

Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dia berdoa kepada Allah menggunakan sebaik-baik nama-nama-Nya, Allah akan memakbulkannya kerana apabila diminta dengan nama-nama-Nya Allah akan memberi.



21. أَسْتَغْفِرُ اللهَ رَبَّ الْبَرَايَا أَسْتَغْفِرُ اللهَ مِنَ الْخَطَاياَ.(4X)

21. Aku memohon keampunan Allah Tuhan Pencipta sekalian makhluk, aku memohon keampunan Allah dari sekalian kesalahan. (4X)



Surah 4: An-Nisa’: Ayat 106: “Dan hendaklah engkau memohon keampunan daripada Allah; sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.”

Surah 11: Hud: Ayat 90: “Dan mintalah keampunan Tuhanmu, kemudian kembalilah taat kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Mengasihani, lagi Maha Pengasih”



22. لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ. (50X)

22. Tiada Tuhan Melainkan Allah (50X)



Komentar tentang kalimah tauhid sangat panjang. Kalimah “La ilaha illallah” ini adalah kunci syurga. Diriwayatkan oleh Abu Dzar bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Allah tidak membenarkan seseorang masuk ke neraka jikalau dia mengucapkan kalimah tauhid ini berulang-ulang kali.”





23. مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّفَ وَكَرَّمَ وَمَجَّدَ وَعَظَّمَ وَرَضِيَ اللهُ تَعاَلَى عَنْ آلِ وَأَصْحَابِ رَسُوْلِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ بِإِحْسَانٍ مِنْ يَوْمِنَا هَذَا إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَعَلَيْناَ مَعَهُمْ وَفِيْهِمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

23. Muhammad Rasulullah, Allah Mencucurkan Selawat dan Kesejahteraan keatasnya dan keluarganya. Moga-moga dipermuliakan, diperbesarkan, dan diperjunjungkan kebesarannya. Serta Allah Ta'ala meredhai akan sekalian keluarga dan sahabat Rasulullah, sekalian tabi'in dan yang mengikuti mereka dengan kebaikan dari hari ini sehingga Hari Kiamat, dan semoga kita bersama mereka dengan rahmat-Mu wahai Yang Maha Pengasih daripada yang mengasihani.



24. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ.

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَـدٌ. اَللهُ الصَّمَـدُ. لَمْ يَلِـدْ وَلَمْ يٌوْلَـدْ. وَلَمْ يَكُـنْ لَهُ كُفُـوًا أَحَـدٌ. (3X)

24. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Dialah Allah Yang Maha Esa; Allah Yang menjadi tumpuan segala permohonan; Ia tidak beranak, dan Ia pula tidak diperanakkan; Dan tidak ada sesiapapun yang sebanding dengan-Nya. Surah Al-Ikhlas (3X)



Dari Imam Bukhari, diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-khudri; seseorang mendengar bacaan surah al-Ikhlas berulang-ulang di masjid. Pada keesokan paginya dia datang kepada Rasulullah s.a.w. dan sampaikan perkara itu kepadanya sebab dia menyangka bacaan itu tidak cukup dan lengkap. Rasulullah s.a.w berkata, “Demi tangan yang memegang nyawaku, surah itu seperti sepertiga al Quran!”

Dari Al-Muwatta', diriwayatkan oleh Abu Hurairah; Saya sedang berjalan dengan Rasulullah s.a.w, lalu baginda mendengar seseorang membaca surah al-Ikhlas. Baginda berkata, “Wajiblah.” Saya bertanya kepadanya, “Apa ya Rasulallah?” Baginda menjawab, “Syurga” (Wajiblah syurga bagi si pembaca itu).



25. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، مِنْ شَرِّ ماَ خَلَقَ، وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ، وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ، وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَد

25. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad); “Aku berlindung dengan Tuhan yang menciptakan cahaya subuh, daripada kejahatan makhluk-makhluk yang Ia ciptakan; dan daripada kejahatan malam apabila ia gelap gelita; dan daripada (ahli-ahli sihir) yang menghembus pada simpulan-simpulan ikatan; dan daripada kejahatan orang yang dengki apabila ia melakukan kedengkiannya”.

Surah Al-Falaq



Diriwayatkan daripada Aisyah r.a katanya: Rasulullah s.a.w biasanya apabila ada salah seorang anggota keluarga baginda yang sakit, baginda menyemburnya dengan membaca bacaan-bacaan. Sementara itu, ketika baginda menderita sakit yang menyebabkan baginda wafat, aku juga menyemburkan baginda dan mengusap baginda dengan tangan baginda sendiri, kerana tangan baginda tentu lebih banyak berkatnya daripada tanganku.



26. بِسْم اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَهِ النَّاسِ، مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ، اَلَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ.

26. Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Katakanlah (wahai Muhammad): “Aku berlindung dengan Tuhan sekalian manusia. Yang Menguasai sekalian manusia, Tuhan yang berhak disembah oleh sekalian manusia, Dari kejahatan pembisik penghasut yang timbul tenggelam, Yang melemparkan bisikan dan hasutannya ke dalam hati manusia, dari kalangan jin dan manusia”. Surah An-Nas



Dari Tirmidhi diriwayatkan daripada Abu Sa’id al-Khudri; Nabi Muhammad s.a.w selalu meminta perlindungan daripada kejahatan jin dan perbuatan hasad manusia. Apabila surah al-falaq dan an-nas turun, baginda ketepikan yang lain dan membaca ayat-ayat ini sahaja.


27. اَلْفَاتِحَةَ

إِلَى رُوحِ سَيِّدِنَا الْفَقِيْهِ الْمُقَدَّمِ مُحَمَّد بِن عَلِيّ باَ عَلَوِي وَأُصُولِهِمْ وَفُرُوعِهِمْ وَكفَّةِ سَادَاتِنَا آلِ أَبِي عَلَوِي أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.

27. Bacalah Al-fatihah kepada roh Penghulu kita al-Faqih al-Muqaddam, Muhammad ibn Ali Ba’alawi, dan kepada asal-usul dan keturunannya, dan kepada semua penghulu kita dari keluarga bani ‘Alawi, moga-moga Allah tinggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya mereka di dalam agama, dunia dan akhirat.



28. اَلْفَاتِحَةَ

إِلَى أَرْوَاحِ ساَدَاتِنَا الصُّوْفِيَّةِ أَيْنَمَا كَانُوا فِي مَشَارِقِ الأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا وَحَلَّتْ أَرْوَاحُهُمْ - أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّةِ وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَبِعُلُومِهِمْ وَبِأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِ هِمْ، وَيُلْحِقُنَا بِهِمْ فِي خَيْرٍ وَعَافِيَةٍ.

28. Bacalah al-fatihah kepada roh-roh Penghulu kita Ahli Ahli Sufi, di mana saja roh mereka berada, di timur atau barat, moga moga Allah tinggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dengan mereka, ilmu-ilmu mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya mereka, dan golongkan kami bersama mereka dalam keadaan baik dan afiah.



29. اَلْفَاتِحَةَ

إِلَى رُوْحِ صاَحِبِ الرَّاتِبِ قُطْبِ الإِرْشَادِ وَغَوْثِ الْعِبَادِ وَالْبِلاَدِ الْحَبِيْبِ عَبْدِ اللهِ بِنْ عَلَوِي الْحَدَّاد وَأُصُوْلِهِ وَفُرُوْعِهِ أَنَّ اللهَ يُعْلِي دَرَجَاتِهِمْ فِي الْجَنَّة وَيَنْفَعُنَا بِهِمْ وَأَسْرَارِهِمْ وَأَنْوَارِهِمْ بَرَكَاتِهِمْ فِي الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالآخِرَةِ.

29. Bacalah fatihah kepada roh Penyusun Ratib ini, Qutbil-Irshad, Penyelamat kaum dan negaranya, Al-Habib Abdullah ibn Alawi Al-Haddad, asal-usul dan keturunannya, moga moga Allah meninggikan darjat mereka di syurga, dan memberi kita manfaat dari mereka, rahsia-rahsia mereka, cahaya dan berkat mereka di dalam agama, dunia dan akhirat.





30. اَلْفَاتِحَة

إِلَى كَافَّةِ عِبَادِ اللهِ الصّالِحِينَ وَالْوَالِدِيْنِ وَجَمِيْعِ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ أَنْ اللهَ يَغْفِرُ لَهُمْ وَيَرْحَمُهُمْ وَيَنْفَعُنَا بَأَسْرَارِهِمْ وبَرَكَاتِهِمْ

30. Bacalah Fatihah kepada hamba hamba Allah yang soleh, ibu bapa kami, mukminin dan mukminat, muslimin dan muslimat, moga moga Allah mengampuni mereka dan merahmati mereka dan memberi kita manfaat dengan rahsia rahsia dan barakah mereka.



31. (ويدعو القارئ):

31. Berdoalah disini apa yang di hajati. :



اَلْحَمْدُ اللهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وأَهْلِ بَيْتِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِحَقِّ الْفَتِحَةِ الْمُعَظَّمَةِ وَالسَّبْعِ الْمَثَانِيْ أَنْ تَفْتَحْ لَنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَتَفَضَّلَ عَلَيْنَا بِكُلِّ خَيْر، وَأَنْ تَجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تُعَامِلُنَا يَا مَوْلاَنَا مُعَامَلَتَكَ لأَهْلِ الْخَيْر، وَأَنْ تَحْفَظَنَا فِي أَدْيَانِنَا وَأَنْفُسِنَا وَأَوْلاَدِنَا وَأَصْحَابِنَا وَأَحْبَابِنَا مِنْ كُلِّ مِحْنَةٍ وَبُؤْسٍ وَضِيْر إِنَّكَ وَلِيٌّ كُلِّ خَيْر وَمُتَفَضَّلٌ بِكُلِّ خَيْر وَمُعْطٍ لِكُلِّ خَيْر يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْن.

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam, segala puji pujian bagi-Nya atas penambahan nikmat-Nya kepada kami, moga moga Allah mencucurkan selawat dan kesehahteraan ke atas Penghulu kami Muhammad, ahli keluarga dan sahabat-sahabat baginda. Wahai Tuhan, kami memohon dengan haq (benarnya) surah fatihah yang Agung, iaitu tujuh ayat yang selalu di ulang-ulang, bukakan untuk kami segala perkara kebaikan dan kurniakanlah kepada kami segala kebaikan, jadikanlah kami dari golongan insan yang baik; dan peliharakanlah kami Ya tuhan kami. sepertimana Kamu memelihara hamba-hambaMu yang baik, lindungilah agama kami, diri kami, anak anak kami, sahabat-sahabat kami, serta semua yang kami sayangi dari segala kesengsaraan, kesedihan, dan kemudharatan. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pelindung dari seluruh kebaikan dan Engkaulah yang mengurniakan seluruh kebaikan dan memberi kepada sesiapa saja kebaikan dan Engkaulah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Amin Ya Rabbal Alamin.





32. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ رِضَـاكَ وَالْجَنَّـةَ وَنَـعُوْذُ بِكَ مِنْ سَـخَطِكَ وَالنَّـارِ. (3X)

32. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon keredhaan dan syurga-Mu; dan kami memohon perlindungan-Mu dari kemarahan-Mu dan api neraka. (3X)



Dari Tirmidhi dan Nasa’i, diriwayatkan daripada Anas ibn Malik: Rasulullah s.a.w. bersabda, “Jikalau sesiapa memohon kepada Allah untuk syurga tiga kali, Syurga akan berkata, “Ya Allah bawalah dia ke dalam syurga;” dan jikalau ia memohon perlindungan dari api neraka tiga kali, lalu neraka pun akan berkata, “Ya Allah berilah dia perlindungan dari neraka.”



انتهى الراتب الشهير

Tamat Ratib Al-Haddad


[1] “Syarh Ratib Al-Haddad” – komentar, pembicaraan dan hujah Ratib Al-Haddad yang teliti bagi setiap ayat di dalam Ratib Haddad tulisan Al-Habib Alawi bin Ahmad bin Hassan bin Abdullah Al-Haddad, dalam bahasa Arab yang dicetak oleh Al-Habib Ali bin Essa bin Abdulkader Al-Haddad di Singapura dan di Maqam Imam Al-Haddad.
Baca Selengkapnya....

Qosidah Qod Kafani

قَدْ كَفَانِي عِلْمُ رَبِّي
Cukup bagiku pengetahuan Tuhanku

مِنْ سُؤَالِي وَاخْتِيَارِي
Daripada permintaan dan usahaku

فَدُعَـائِي وابْتِهـَالِي
Doa serta permohonanku

شَـاهِدٌ لِي بِافْتِقَارِي
Sebagai bukti pada kefakiranku

فَلِهَذَا السِّرِّ أَدْعُـو
Oleh karena rahasia itu aku berdoa

فِي يَسَارِيْ وَعَسَارِي
Pada saat aku senang dan susah

أَنَا عَبْدٌ صَارَ فَخْرِي
Aku adalah hamba, menjadi kebanggaanku

ضِمْنَ فَقْرِي وَاضْطِرَارِي
Dalam kefakiran dan keperluanku

يَا إِلَـهِي وَمَلِيْـكِي
Wahai Tuhanku yang memiliki aku

أنْتَ تَعْلَمُ كَيْفَ حَالِي
EngKau Maha tahu akan keadaanku

وَبِمَا قَدْ حَـلَّ قَلْبِـي
Dan apa yang berada dalam hatiku

مِنْ هُمُوْمٍ وَاشْتِغَالِـي
Dari kesedihan dan kesibukanku

فَتَـدَارَكْنِي بِلُطْفٍ
Maka tolonglah aku dengan kelembutan

مِنْكَ يَا مَوْلَى الْمَوَالِي
Dari-Mu Wahai Tuhan seluruh hamba

يَا كَرِيْمَ الْوًَجْهِ غِثْنِي
Wahai yang Maha Pemurah tolonglah hamba

قَبْلَ أنْ يَفْنَى اصْطِبَارِي
Sebelum lenyap kesabaran hamba

يَا سَرِيْعَ الْغَوْثِ غَوْثًا
Wahai pemberi pertolongan dengan segera

مِنْكَ يُدْرِكْنَا سَرِيْعًا
Berilah kami dengan segera pertolongan-Mu

يَهْزِمُ الْعُسْرَ وَيَأْتِي
Yang dapat menghilangkan kesulitan dan dapat mendatangkan

بِالَّذِي نَرْجُو جَمِيْـعًا
Dengan apa-apa yang kami harapkan semua

يا قَرِيْـبًا يا مُجِيْـبًا
Wahai yang Maha dekat, dan menjawab

يا عَلِيْمًا يا سَمِيْـعًا
Wahai yang Maha mengetahui dan mendengar

قَدْ تَحَقَّقْتُ بِعَجْزِي
Aku mengaku akan kelemahanku

وخُضُوْعِي وانْكِسَارِي
Dan ketaatan serta kesedihanku

لَمْ أَزَلْ بِالْبَابِ وَاقِفْ
Aku sentiasa menunggu di hadapan pintu rahmat-Mu

فَارْحَمَنْ ربِّي وُقُوْفِي
Wahai Tuhanku berikanlah rahmat padaku

وبِوَادِي الْفَضْلِ عَاكِفْ
Pada lembah kurnia-Mu aku berada

فَأَدِمْ ربِّي عُكُـوْفِي
Wahai Tuhanku tetapkanlah keberadaanku disana

ولِحُسْنِ الظَّنِّ لاَزِم
Aku sentiasa mempunyai prasangka baik

فَهُوَ خِلِّي وحَلِيْفِي
Ia (prasangka baik) adalah teman dan kawanku

وأَنِيْسِي وجَلِيْسِي
Juga penyenang bagiku dan yang setia bersamaku

طُوْلَ لَيْلِي ونَهَارِي
Sepanjang malam dan siangku

حَاجَةً فِي النَّفْسِ يَا ربّ
Wahai Tuhanku, dalam jiwa ini terdapat hajat

فَاقْضِهَا يا خَيْرَ قَاضِي
Tunaikanlah Wahai yang Maha Menunaikan

وأَرِحْ سِرِّي وقَلْبِي
Tenteramkanlah rahsia dan hatiku

مِنْ لَظاَهَا والشُّوَاظِ
Dari kebimbangan dan pergolakannya

فَالْهَنَا والْبَسْطُ حَالِي
Sungguh aku akan berada dalam ketenteraman dan ketenangan

وشِعَارِي ودِثَارِي
Dan juga (ketenteraman dan ketenangan) menjadi pakaianku 
Baca Selengkapnya....

Maulid Dhiya'ullami



بسم الله الر حمن الر حيم

يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد              حَبِيبِكَ الشَّافِعِ   الْمُشَفَّع  
يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد       أَ عْلَى  الْوَ رَ ي رُ تْبَةً   وَ أَرْ فَع
يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد     أَسْمَى  الْبَرَ ايَا  جَاهًا وَ أَوْ سَع
يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد         وَ اسْلُكْ   بِنَا رَ بِّ   خَيْرَ  مَهْيَع
يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد       وَ عَافِنَا  وَ اشْفِ    كُلَّ   مُوْ جَع
يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد        وَ أَصْلِحِ   الْقَلْبَ  وَ اعْفُ  وَ نْفَع
يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد      وَا كْفِ الْمُعَادِي وَ اصْرِفْهُ وَرْدَ ع
يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد             نَحُلُّ   فِي  حِصْنِكَ   الْمُمَنَّع
يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد      رَ بِّ  ارْ ضَ عَنَّا رِ ضَاكَ اْلأَ رْ فَع
يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد      وَ اجْعَلْ لَنَا فِي الْجِنَانِ  مَجْمَع
يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد      رَ افِقْ   بِنَا خَيْرَ  خَلْقِكَ  اجْمَع
يَا رَبِّ  صَلِّ  عَلَى مُحَمَّد      يَا رَ بِّ    صَلِّ  عَلَيْهِ   وَ سَلِّمْ

اللهـم صـل وسـلم وبارك علـيه وعلـى آلـه

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang

Ya Allah limpahkanlah shalawat atas Muhammad,
Kekasih- Mu pemilik syafa’at yang dilimpahi syafa’at- Mu.

Ya Allah limpahkanlah shalawat atas Muhammad,
Semulia-mulia ciptaan, dalam keagungan dan derajatnya.

Ya Allah limpahkanlah shalawat atas Muhammad,
Makhluk yang termulia kedudukannya, melebihi segenap ciptaan.

Ya Allah limpahkanlah shalawat atas Muhammad,
Jalankanlah kami Wahai Tuhan ke jalan yang paling benar (jalan nabi- Mu).

Ya Allah limpahkanlah shalawat atas Muhammad,
Sembuhkanlah kami dari segala Keluhan penyakit,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat atas Muhammad,
Perbaikilah Hati dan ma’afkanlah, dan berilah kami (segala yang) manfa’at,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat atas Muhammad,
Bentengilah dari yang sedang memusuhi kami dan hindarkanlah kami dari musuh yang akan datang kepada kami,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat atas Muhammad,
Kami berlindung di dalam Benteng- Mu Yang Melindungi dari segala gangguan,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat atas Muhammad,
Ya Allah Ridhoilah kami dengan Keridhoan- Mu Yang Agung,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat atas Muhammad,
Jadikanlah kami berkompul dengan Nabi- Mu di Surga,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat atas Muhammad,
Jadikanlah kami selalu berdampingan dengan Sebaik-baik Ciptaan- Mu,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat atas Muhammad,
Ya Allah Limpahkanlah Shalawat atasnya serta Salam Sejahtera,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya,


بِسْمِ   اللهِ  الرَّ  حْمنِ   الرَّ  حِيمِ
أَعُو ذُ  بِاللهِ   مِنَ  الشَّيْطَانِ  الرَّ  جِيمِ

إِنَّا  فَتَحْنَا   لَكَ   فَتْحًا  مُبِينَا   *   لِيَغْفِرَ   لَكَ  اللهُ
مَا تَقَدَّ مَ مِنْ  ذَنْبِكَ  وَمَا  تَأَخَّرَ  وَ يُتِمَّ   نِعْمَتَهُ  عَلَيْكَ
وَ يَهْدِ يَكَ   صِرَ اطًا  مُسْتَقِيمًا  *  وَ يَنْصُرَ كَ   اللهُ
نَصْرً ا عَزِ  يزً ا  *
           
لَقَدْ جَاءَ  كُمْ   رَ سُو لٌ   مِنْ  أَ نْفُسِكُمْ  عَزِ  يزٌ  عَلَيْهِ
مَا عَنِتُّمْ     حَرِ يصٌ   عَلَيْكُمْ    بِالْمُؤْ مِنِينَ   رَ ءُو فٌ
رَ حِايمِ   *   فَإِنْ   تَوَ لَّوْ ا  فَقُلْ  حَسْبِيَ  اللهُ   لاَ إِلهَ  إِلاَّ
هُوَ  عَلَيْهِ   تَوَ  كَّلْتُ   وَ هُوَ  رَ بُّ  الْعَرْ شِ   الْعَطِيمِ    *

إِنَّ  اللهَ  وَ مَلاَ  ئِكَتَهُ   يُصَلُّو  نَ  عَلَى  النَّبِيِّ
يَا أَيُّهَا الَّذِ ينَ   آمَنُوا  صَلُّو ا  عَلَيْهِ  وَ سَلِّمُوا  تَسْلِيمًا *

اللهـم صـل وسـلم وبارك علـيه وعلـى آلـه

Dengan nama Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang.
Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk.

“ SESUNGGUHNYA KAMI TELAH MEMBENTANGKAN BAGIMU (Wahai Muhammad saw) KEMENANGAN YANG GEMILANG. AGAR DIA ALLAH MENGAMPUNI DOSA-DOSAMU YANG TERDAHULU DAN YANG AKAN DATANG. DAN MENYEMPURNAKAN NI’MAT NYA ATASMU (Wahai Muhammad saw), DAN DIA (Allah) MEMBERIMU PETUNJUK KE JALAN YANG LURUS, DAN ALLAH AKAN MEMBERIKAN PERTOLONGAN PADAMU DENGAN PERTOLONGAN YANG MULIA”,

“ SESUNGGUHNYA TELAH DATANG KEPADAMU UTUSAN DARI GOLONGANMU, DAN SANGAT BERAT BAGINYA (Muhammad saw) APA-APA YANG MENIMPA KALIAN, DAN SANGAT MENJAGA KALIAN (Dari Kemurkaan Allah dan Neraka), DAN IA SANGAT BERLEMAH LEMBUT DAN BERKASIH SAYANG ATAS ORANG-ORANG MU’MIN,
MAKA JIKA MEREKA INGKAR MAKA KATAKANLAH : CUKUPLAH PERTOLONGAN ALLAH BAGIKU, TIADA TUHAN SELAIN DIA, DAN KEPADA NYA AKU BERSERAH DIRI DAN DIA ADALAH PEMILIK ARSY YANG AGUNG”,

“ SESUNGGUHNYA ALLAH DAN PARA MALAIKAT NYA BERSHALAWAT ATAS NABI (saw), WAHAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN BERSHALAWATLAH PADANYA, DAN BERILAH SALAM KEPADANYA DENGAN SEBAIK-BAIK SALAM SEJAHTERA”,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya. 



اَلْحَمْدُ   لِلّهِ   الَّذِي   هَدَ انَا
بِعَبْدِه ِ  الْمُخْتَارِ   مَنْ   دَعَانَا
إِ لَيْهِ   بِاْلإِذْنِ   و َقَدْ  نَادَ انَا 
لَبَّيْكَ   يَا  مَنْ   دَ لَّنَا  وَحَدَ انَا
صَلَّى   عَلَيْكَ   اللّهُ   بَارِ ئُكَ   الَّذِي
بِكَ  يَا  مُشَفَّعُ   خَصَّنَا  وَحَبَاَنا
مَعَ   آلِكَ  اْلأَطْهَارِ   مَعْدِنِ   سِرِّ كَ
اْلأَ سْمَى   فَهُمْ   سُفُنُ   النَّجَاةِ   حِمَاَنا
وَعَلَى   صَحَا بَتِكَ   الْكِرَ  امِ   حُمَاةِ   دِ يـْنِكَ  
       أَصْبَحُوْ ا   لِوَ لاَئِهِ   عُنْوَ اَنا
وَ التَّابِعِينَ    لَهُمْ   بِصِدْقٍ   مَا  حَدَى
حَادِي  الْمَوَدَّةِ   هَيَّجَ   اْلأَشْجَانَا
وَاللّهِ   مَا ذُ كِرَ   الْحَبِيْبُ   لَدَى  الْمُحِبِّ
إِلاَّ   وَ أَضْحَى   وَالِهًا  نَشْوَ انَا
أَيْنَ   الْمُحِبُّو نَ   الَّذِ  يْنَ   عَلَيْهِمُ
بَذْ لُ   النُّفُو سِ    مَعَ  النَّفَائِسِ   هَانَا
لاَ   يَسْمَعُو نَ   بِذِ  كْرِ   طهَ  الْمُصْطَفَى
إِلاَّ   بِهِ  انْتَعَشُوْا  وَ أَذْ هَبَ   رَاَنا
فَا هْتَا جَتِ   اْلأَرْ وَاحُ    تَشْتَاقُ   اللِّقَا
وَ تَحِنُّ    تَسْأَلُ   رَبَّهَا  الرّ ِضْوَ انَا 
حَالُ  الْمُحِبِّيْنَ     كَذَا   فَاسْمَعْ   إِلَى
سِيَرِ   الْمُشَفَّعِ   وَ ارْ هِفِ   اْلآذَا نَا
وَانْصِتْ    إِلَى  أَوْ صَافِ   طهَ   الْمُجْتَبَى 
وَاحْضِرْ   لِقَلْبِكَ    يَمْتَلِىْء   وِ جْدَ انَا
{ يَا رَ بَّنَا  صَلِّ    وَسَلِّمْ   دَ ائِمًا
عَلَى حَبِيْبِكَ   مَنْ   إِلَيْكَ   دَعَانَا}

اللهـم صـل وسـلم وبارك عـليه وعـلى آلـه

Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita petunjuk,
Melalui Hamba- Nya yang terpilih(saw) yang telah menyeru kami

Kepada Nya dengan Izin Nya, dan sungguh Beliau (saw) telah menyeru kami,
Kami datang kepadamu Wahai Yang telah Menunjuki kami ke jalan yang benar (kami mendatangi panggilanmu Wahai Nabi saw), dan yang telah menyeru kami dengan Lemah Lembut dan Bahasa Indah,

Limpahan Shalawat padamu dari Allah yang telah Menciptakanmu,
Yang denganmu Wahai Pembawa Syafa’at, telah membuat kami Terpilih dan Terkasihi,

Juga pada Keluargamu yang Suci, sebagai Sumber-sumber Rahasiamu
Yang Tinggi, maka merekalah Bahtera Penyelamat yang Membentengi kami,

Dan pada Para Sahabatmu yang Mulia, yang menjadi Dinding Penyelamat bagi Ajaranmu dan Figur Panutan bagi Pencintanya (saw),

Juga terhadap para Tabi’in setelah mereka, yang mengikuti mereka dengan jujur dan bersungguh-sungguh,
Sebanyak puji pujian Kerinduan yang Merobohkan Kesedihan,

Demi Allah tidaklah diperdengarkan Nama Sang Kekasih (saw) pada orang yang mencintainya,
Maka akan tersentak gembira dan hilanglah segala kesusahan,

Dimanakah Para Pecinta, yang mereka itu rela berkorban dengan Nyawa dan meremehkan hal-hal yang berharga (yang bersifat duniawi),

Tidaklah mereka mendengar sebutan Nama Thaahaa Al Musthafa (saw),
Maka bangkitlah Semangat dan hilanglah segala Kegundahan hati,
Maka Bergetarlah ruh-ruh merindukan perjumpaan, dan merintih memohon Keridhoan dari Tuhan Nya,

Begitulah keadaan para Pecinta maka dengarlah Perjalanan Hidup Sang Pembawa Syafa’at dan Konsentrasikanlah Pendengaran,

Maka Simaklah akan sifat-sifat Thaahaa (saw), Imam yang Terpilih
Dan hadirkanlah hatimu, niscaya terpenuhilah hatimu dengan Kerinduan padanya (saw),

Wahai Tuhan Kami Limpahkanlah Shalawat dan Salam Sejahtera Selamanya,
pada Kekasih Mu yang telah menyeru kami Kepada Mu,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya



نَـبَّأَنَا  اللّهُ    فَقَالَ  :    جَاءَ  كُمْ
نُو رٌ   فَسُبْحَانَ    الَّذِي   أَنْبَانَا
وَالنُّو رُ   طهَ   عَبْدُ هُ   مَنَّ    بِهِ
فِي    ذِ كْرِ هِ   أَعْظِمْ    بِهِ   مَنَّانَا
هُوَ  رَ حْمَةُ   الْمَوْ لَى    تَأَمَّلْ   قَوْ  لَهُ
{ فَلْيَفْرَ  حُو ا} وَ اغْدُ  بِهِ  فَرْ حَانَا
مُسْتَمْسِكًا  بِالْعُرْ وَةِ   الْوُ  ثْقَى 
 وَ مُعْتَصِمًا   بِحَبْلِ   اللّهِ    مَنْ   أَنْشَانَ
وَاسْتَشْعِرَنْ   أَنْوَ ارَ   مَنْ    قِيلَ  :   مَتَى
كُنْتَ    نَبِيَّا،   قَالَ  :   آدَ مُ    كَانَا
بَيْنَ   التُّرَ ابِ   وَ بَيْنَ   مَاءٍ   فَاسْتَفِقْ
مِنْ   غَفْلَةٍ   عَنْ   ذَا  وَ  كُنْ   يَقْظَانَا
وَ اعْبُرْ    ِإ لَى   أَسْرَ ارِ   رَ بِّي   لَمْ   يَزَ لْ
يَنْقُلُنِي   بَيْنَ   الْخِيَارِ   مُصَانَا
لَمْ   تَفْتَرِ قْ   مِنْ   شُعْبَتَيْنِ   إِلاَّ    أَ نَا
فِي   خَيْرِ  هَا  حَتَّى   بُرُ و زِ يَ   آ نَا
فَأَنَا  خِيَارٌ   مِنْ   خِيَارٍ   قَدْ  خَرَ جْـتُ
مِنْ   نِكَا حٍ   لِي   إِلهِيَ   صَانَا
طَهَّرَ هُ   اللّهُ   حَمَاهُ   اخْتَارَ هُ
وَ مَا  بَرَ ى   كَمِثْلِهِ    إِ نْسَانَا
وَ بِحُبِّهِ  وَ  بِذِ كْرِ هِ  وَ النَّصْرِ  وَ التَّـ
                            ـوْ  قِيرِرَ بُّ الْعَرْ شِ  قَدْ   أَوْ صَانَا

{يَا  رَ بَّنَا   صَلِّ   وَ سَلِّمْ    دَ ائِمًا
عَلَى  حَبِيبِكَ   مَنْ   إِلَيْكَ   دَ عَانَا}

اللهـم صـل وسـلم وبارك عـليه وعـلى آلـه

Maka telah datang kabar dari yang berfirman : “ TELAH DATANG KEPADAMU CAHAYA ….. “ (QS Al Maidah : 15), Maha Suci Yang Telah Mengabarkannya kepada kita,

Dan cahaya Thaahaa Hamba- Nya, terlimpahkan dengan mengingatnya (saw), maka Agungkanlah Sang Pemberi Anugerah,

Dia (saw) adalah Rahmat dari Sang Pencipta, maka renungkanlah Firman Nya : “ MAKA BERGEMBIRALAH KAMU “, (“KATAKANLAH : DENGAN DATANGNYA ANUGERAH ALLAH DAN RAHMATNYA MAKA DENGAN ITU KALIAN BERGEMBIRALAH“) maka bergegaslah untuk bergembira dengan Kedatangannya (saw),

Dengan berpegang teguh pada Tali terkuat (Al Qur’an dan Hadits) dan berusahalah senantiasa berada di Jalan Allah, yang telah menciptakan kita,

Renungkanlah Cahaya cahaya (Rasul saw) yang ketika dikatakan kepadanya (saw) “sejak kapankah Kenabianmu ?” , maka sabdanya kenabianku sejak Adam As,

Masih berada diantara Air dan Tanah “, maka sadarlah kamu dari kelalaianmu itu dan bangkitlah sadar,

Maka fahamilah rahasia-rahasia Tuhanku yang selalu memindahkanku (saw) diantara Sulbi orang mulia ke sulbi orang yang mulia dan terpilih,

Tidaklah terpisah dari dua kelompok (Suku), terkecuali aku berada pada yang terbaik, begitulah hingga aku dilahirkan,

Maka aku adalah yang terpilih dari yang terpilih, dan aku terlahir dari pernikahan yang Tuhanku telah menjaganya,

Allah telah menyucikan (saw), serta menjaga dan memilihnya (saw), maka tidaklah pernah Allah memunculkan manusia menyerupainya (saw),

Dan dengan mencintainya dan mengingatnya serta membantu syari’atnya dan dengan penghormatan padanya (saw) Allah pencipta Arsy telah mewasiatkan kita,

Wahai Tuhan Kami Limpahkanlah Shalawat dan Salam Sejahtera Selamanya, Pada Kekasih Mu yang telah menyeru kami Kepada- Mu,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya, 
هذَا  وَ قَدْ   نَشَرَ   اْلإِ لهُ   نُعُوتَهُ
فِي  الْكُتْبِ   بَيَّنَهَا  لَنَا  تِبْيَانَا
أَخَذَ  مِيثَاقَ   النَّبِيِّينَ    لَمَا
آتَيْتُكُمْ   مِنْ  حِكْمَةٍ   إِحْسَانَا 
وَجَاءَ   كُمْ   رَسُولُنَا   لَتُؤْ مِنُنَّ
وَ تَنْصُرُو نَ   وَ تُصْبِحُو نَ   أَعْوَ انَا
قَدْ بَشَّرُوْ ا   أَقْوَ ا مَهُمْ   بِالْمُصْطَفَى
أَعْظِمْ   بِذَلِكَ   رُتْبَةً   وَ مَكَانَا
فَهُوَ   وَ إِنْ   جَاءَ  اْلأَ خِيرُ   مُقَدَّ م ٌ
يَمْشُونَ   تَحْتَ   لِوَ اءِ   مَنْ   نَادَ انَا
يَا أُمَّةَ   اْلإِ سْلا َمِ   أَوَّ لُ   شَافِعٍ
                                وَ مُشَفَّعٍ   أَنَا  قَطُّ   لاَ   أَتَوَ انَى 
حَتَّى  أُنَادَ ى   ارْ فَعْ   وَ سَلْ   تُعْطَ   وَ قُلْ
يُسْمَعْ   لِقَوْ لِكَ   نَجْمُ   فَخْرِكَ   بَانَا
وَ لِوَ اءُ   حَمْدِ  اللّهِ   جَلَّ   بِيَدِ ي
وَ  َلأَ وَّ لاً   آتِي   أَنَا الْجِنَانَـا
وَ أَ  كْرَ مُ   الْخَلْقِ   عَلَى  اللّهِ   أَنَا
فَلَقَدْ  حَبَاكَ   اللّهُ   مِنْهُ   حَنَانَا
وَ لَسَوْ فَ   يُعْطِيكَ   فَتَرْ ضَى  جَلَّ  مِنْ
مُعْطٍ   تَقَاصَرَ   عَنْ   عَطَا هُ   نُهَانَا
بِاللّهِ    كَرِّرْ  ذِ كْرَ   وَ صْفِ   مُحَمَّدٍ
كَيْمَا تُزِ  يحَ   عَنِ   الْقُلُو بِ   الرَّ انَا

{يَا رَ بَّنَا  صَلِّ   وَ سَلِّمْ   دَائِمًا
عَلَى  حَبِيبِكَ   مَنْ   إِلَيْكَ   دَعَانَا}



اللهـم صـل وسـلم وبارك علـيه وعلـى آلـه


Begitulah, dan telah Tuhan sebarkan tentang sifat-sifatnya (saw) dalam kitab kitab terdahulu dan Al Qur’an yang menjelaskannya dengan sejelas jelasnya,

Dia (Allah) telah mengambil Perjanjian dari para Nabi ketika telah Kudatangkan pada kalian Hikmah dan Kemuliaan,

Dan datanglah pada kalian (wahai para Nabi) Utusan Kami (saw) maka agar kalian (wahai para Nabi) beriman padanya, dan kalian (wahai para Nabi) mendukungnya (saw), dan agar kalian (wahai para Nabi) menjadi pengikutnya,

Dan bahwasannya Para Nabi terdahulu telah memberi kabar gembira pada umat umat mereka akan kedatangan nabi terpilih, maka Muliakanlah Martabat dan Kedudukkannya,

Maka apabila telah datang hari kiamat, para Nabi terdahulu berjalan di bawah naungan Panji Sang Nabi (saw) yang telah menyeru kita,

Wahai Umat Islam, aku adalah yang pertama Sebagai Pemberi Syafa’at dan yang Pertama menyebarkannya, dan tidaklah aku ragu dan memperlambat,

Hingga diserukan kepadaku (ketika bersujud memohon syafa’at) angkatlah kepalamu (wahai Muhammad), dan katakanlah permintaanmu niscaya Ku kabulkan permohonanmu dan bicaralah niscaya Ku dengar pembicaraanmu, sungguh Bintang Kemuliaanmu (Wahai Nabi saw) sungguh jelas dan terang,

Dan Panji Pujian kepada Allah Yang Maha Perkasa berada di tanganku (saw) dan aku (saw) adalah manusia pertama yang mendatangi surga- Nya,

Dan aku (saw) telah menjadi ciptaan yang paling mulia di sisi Allah, maka sungguh engkau (wahai nabi) telah terpelihara oleh Allah dengan kasih sayang- Nya,

“DAN AKAN DIA LIMPAHKAN KEPADAMU (saw) ANUGERAH KAMI HINGGA ENGKAU (saw) PUAS” (dan ayat ini) merupakan tanda kebesaran dari Yang Maha Pemberi, dan pemberian itu merupakan hal yang akal sulit untuk menerimanya (seperti banyaknya Mukzijat beliau saw),

Demi Allah ulang-ulanglah peringatan sifat-sifat Muhammad, agar menjadi penawar dan pengikis kotoran-kotoran hati,

Wahai Tuhan Kami Limpahlanlah Shalawat dan Salam Sejahtera Selamanya pada Kekasih Mu yang telah menyeru kami Kepada- Mu,

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya,


لَمَّا دَ نَا وَ قْتُ   الْبُرُو ز ِ    ِلأَ حْمَدٍ
عَنْ   إِذْنِ   مَنْ   مَا شَاءَ هُ   قَدْ   كَانَـا
حَمَلَتْ   بِهِ  اْلأُ مُّ   اْلأ َمِينَةُ   بِنْتُ   وَ هـ 
بٍ   مَنْ   لَهَا  أَعْلَى  اْلإِ لهُ  مَكَانَا
مِنْ   وَ الِدِ   الْمُخْتَارِ   عَبْدِ  اللّهِ  بْنِ
عَبْدٍ   لِمُطَّلِبٍ   رَ أَى  الْبُرْ هَانَا
قَدْ   كَانَا  يَغْمُرُ   نُورُ  طهَ   وَجْهَهُ
وَسَرَ ى  إِلَى  اْلاِ  بْنِ  الْمَصُونِ   عَيَانَا
وَهُوَ ابْنُ   هَاشِمٍ   الْكَرِ  يمِ   الشَّهْمِ  بْنِ
عَبْدِ  مَنَافٍ   اِبْنِ   قُصَيٍّ    كَانَا
وَ الِدُ هُ   يُدْعَى  حَكِيمًا  شَأْ نُهُ
قَدِ  اعْتَلَى   أَعْزِزْ   بِذ لِكَ  شَانَا
وَاحْفَظْ  أُصُو لَ  الْمُصْطَفَى  حَتَّى   تَرَى
فِي  سِلْسِلا َتِ   أُصُو  لِهِ   عَدْنَانَا
فَهُنَاكَ  قِفْ   وَ اعْلَمْ    بِرَ فْعِهِ     إِ لَى  السْـ
مَاعِيلَ     كَانَا  لِلأَبِ   مِعْوَ انَا
وَ حِينَمَا  حَمَلَتْ   بِهِ   آمِنَةٌ
لَمْ   تَشْكُ  شَيْئًا  يَأْ خُذُ   النِّسْوَ انَا
وَبِهَا  أَحَاطَ   اللُّطْفُ   مِنْ  رَ بِّ   السَّمَا
أَ قْصَى  اْلأَ ذَى  وَ الْهَمَّ   وَ اْلأَ حْزَ انَا
وَ رَ أَتْ   كَمَا  قَدْ  جَاءَ  مَا عَلِمَتْ   بِهِ
أَنَّ   الْمُهَيْمِنَ   شَرَّ فَ   اْلأَ  كْوَ انَا
بِالطُّهْرِ   مَنْ   فِي   بَطْنِهَا   فَاسْتَبْشَرَ تْ
وَ دَ نَا  الْمَخَاضُ   فَأُتْرِ عَتْ   رِ ضْوَ انَا
وَ  تَجَلَّتِ   اْلأَ  نْوَ ارُ   مِنْ    كُلِّ  الْجِهَا
تِ   فَوَ قْتُ   مِيلاَ دِ   الْمُشَفَّعِ   حَانَا
وَقُبَيْلَ   فَجْرٍ   أَبْرَ زَتْ   شَمْسُ  الْهُدَى
ظَهَرَ  الْحَبِيبُ   مُكَرَّ  مًا  وَ مُصَانَا

سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُللهِ وَلاَ إلهَ  إِلاَ اللهُ وَاللهُ أَ كْبَرُ   أربعًا
وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِـاللهِ الْعَلِيِّ الْعَطِيمِ  فِـي كُــلِّ لَـحْظَةٍ أَبَدًا
عَدَدَ خَلْـقِهِ وَرِضَا نَـفْسِهِ وَزِنَةَ عَرْ شِهِ وَ مِدَادَ كَـلِمَاتِهِ.


Ketika telah dekat waktu kelahiran Ahmad (saw) dari Izin Nya, yang apabila menghendaki sesuatu tidaklah akan terhalang,

Ia (saw) berada di dalam kandungan Sang Ibu Aminah binti Wahb, yang baginya telah Allah Muliakan Martabatnya (sebagai ibu bagi sebaik baik ciptaan),

Dari ayah Sang Hamba yang terpilih (saw), yaitu (ayahnya itu) Abdullah bin Abdul Muthalib yang melihat tanda-tanda (Isyarat Kenabian),

Telah terjadi bahwa wajahnya (ayahnya) diterangi Cahaya Thaahaa (saw) yang kemudian berpindah kepada Sang Anak yang terjaga ini (cahaya itu) terlihat dengan jelas,

Dan dia adalah keturunan Hasyim yang Mulia dan Perkasa , putra Abdu Manaaf, Keturunan Qushay yang dahulu,

Ayahnya digelari Hakiim (orang yang adil) dan kepribadiannya telah termasyur, maka berbanggalah dengan kepribadian itu,

Dan hafalkanlah silsilah keturunan Nabi yang Terpilih hingga kau temukan silisilahnya pada (datuknya) Adnan, 

Apabila telah sampai kepada Adnan maka berhentilah, (bahwa setelah Adnan, banyak riwayat yang berbeda) dan ketahuilah bahwa nasabnya bersambung hingga Ismail As (putra Ibrahim As) yang telah menjadi pendukung Ayahnya (Ibrahim As),

Dan ketika Aminah (ra) mengandungnya (saw) tidaklah Ia (Ibundanya ra) merasa sakit sebagaimana keluhan wanita hamil,

Baginya (Aminah ra) selubung Kelembutan dari Allah Pemelihara Langit, hilanglah segala gangguan, kegelisahan dan kesedihan,

Kemudian ia (Aminah ra) menyaksikan sebagaimana yang telah diketahuinya, bahwa Yang Maha Pemelihara telah memuliakan Alam Semesta,

Dengan kesucian bayi di dalam kandungannya, maka iapun bergembira ketika telah dekat saat saat kelahiran, maka berluapanlah limpahan keridhoan Nya, (Tasbih, Tahmid, Tahlil, Takbir, 4X)

Maka Muncullah Cahaya Cahaya dari segala penjuru dan Detik Kelahiranpun tiba,

Beberapa saat sebelum terbitnya fajar Muncullah Matahari Hidayah, Lahirlah Sang Kekasih yang Termuliakan dan Terjaga,

صَلَّى اللّهُ عَلَى مُحَمَّد             صَلَّى الله عَلَيْهِ  وَسَلَّم

يَا نَبِي  سَلاَ  مُ  عَلَيْكَ             يَا رَسُو ل   سَلاَ  مُ   عَلَيْكَ
يَا  حَبِيب  سَلاَ  مُ  عَلَيْك         صَلَو اتُ اللّه عَلَيْكَ

أَبْرَ زَ    اللّهُ    الْمُشَفَّع           صَاحِبُ   الْقَدْ رِ   الْمُرَ  فَّع
فَمَلاَ   النُّو رُ   النَّوَ احِي          عَمَّ   كُلَّ  الْكَوْنِ أَجْمَع
نُكِسَتْ    أَصْنَامُ    شِرْ كٍ        وَ بِنَا الشِّرْ كُ   تَصَدَّ ع
وَ  دَ نَا  وَ قْتُ   الْهِدَ ايَة          وَ حِمَى الْكُفْرِ تَزَعْزَ ع
مَرْ حَبًا  أَهْلاً  وَ سَهْلاً             بِكَ   يَا  ذَا  الْقَدْرِ  اْلأَ رْ فَع
يَا إِمَامَ   اهْلِ   الرِّ سَالَة           مَنْ   بِهِ   اْلآ فَاتِ  تُدْ فَع
أَنْتَ   فِي  الْحَشْرِ   مَلاَ ذٌ        لَكَ    كُلُّ   الْخَلْقِ   تَفْزَ ع
وَ يُنَادُ ونَ   تَرَ ى   مَا            قَدْدَهَى مِنْ هَوْلٍ أَفْظَع

طَلَعَ الْبَدْرُ  عَلَيْنَا                  مِنْ ثَنِيَّةِ الْوَ دَاع
وَ جَبَ الشُّكْرُ عَلَيْنَا              مَا دَ عَا لِلّهِ دَاع

فَلَهَا  أَنْتَ  فَتَسْجُد               وَ تُنَادَ ى   أشْفَع   تُشَفَّع
فَعَلَيْكَ   اللّهُ   صَلَّى             مَا بَدَ ى النُّو رُ  وَ شَعْشَع
وَ بِكَ   الرَّ حْمنَ   نَسْأَل        وَ  أِلهُ   الْعَرْشِ   يَسْمَع
يَا عَظِيمَ   الْمَنِّ   يَا رَ بّ        شَمْلَنَا بِالْمُصْطَفَى اجْمَع
وَ بِهِ   فَا نْظُرْ إِلَيْنَا                وَ اعْطِنَا  بِه   كُلَّ   مَطْمَع
وَ ا كْفِنَا  كُلَّ   الْبَلاَ  يَا         وَ ادْ فَعِ   اْلآ  فَاتِ   وَ ارْفَع

رَبِّ  فَا غْفِرْ لِي  ذ ُنُو  بِـي     بِبَرْكَةِ  الْهَادِي  الْمُشَفَّع

وَ اسْقِنَا  يَا  رَبّ    أَغِثْنَا         بِحَيَا  هَطَّالِ   يَهْمَع
وَ اخْتِمِ   الْعُمْرَ   بِحُسْنَى        وَاحْسِنِ الْعُقْبَىوَمَرْجَع
وَ صَلاَ ةُ   اللّهِ   تَغْشَى           مَنْ  لَهُ  الْحُسْنُ  تَجَمَّع
أَ حْمَدَ   الطُهْرَ   وَ  آلِه          وَ الصَّحَابَة   مَالسَّنَا شَع

اللهـم صـل وسـلم وبارك علـيه وعلـى آلـه


Bershalawat Allah kepada (Nabi) Muhammad
Bershalawat Allah padanya dan memberi salam sejahtera (3x)

Wahai Nabi salam sejahtera bagimu,  Wahai Rasul salam sejahtera bagimu.
Wahai Kekasih salam sejahtera bagimu,  Shalawat Allah bagimu.

Telah tiba dengan kehendak Allah sang penberi syafa’at, Yang memiliki derajat yang dimuliakan.
Maka limpahan cahaya memenuhi segala penjuru, Meliputi seluruh alam semesta.

Maka berjatuhanlah patung-patung berhala di ka’bah, Dan tumbanglah sendi-sendi kemusyrikan.
Maka dekatlah saat-saat petunjuk, Dan benteng kekafiranpun berguncang.

Salam sejahteralah atas kedatanganmu, Wahai sang pemilik derajat yang mulia.
Wahai Imam dan pemimpin para Rasul, Yang dengannya bencana-bencana terhapuskan.

Engkaulah satu-satunya harapan di hari Qiamat, Kepadamulah seluruh ciptaan berlindung dari kemurkaan Allah.Kemudian mereka datang memanggil-manggilmu dengan penuh harapan, Ketika menyaksikan dahsyatnya kesulitan dan rintangan.

Maka karena itulah engkau (SAW) bersujud kehadirat Tuhanmu,
Maka diserukan kepadamu berikanlah syafa’at, karena engkau diizinkan memberi syafa’at.

Maka atasmu limpahan shalawat dari Allah, Selama cahaya masih bersinar terang benderang.

Dan denganmu (SAW) kami memohon kepada Ar Rahmaan, Maka pencipta Arsy mendengar do’a kami.

Wahai pemberi anugerah yang mulia, Wahai Tuhan, Kumpulkanlah kami dengan AlMusthafa (SAW).

Dan demi Dia (SAW), maka pandanglah kami dengan kasih sayangmu, Dan berilah kami segala yang kami inginkan.

Dan hindarkanlah kami dari segala bencana, Dan jauhkanlah segala kesulitan, dan angkatlah sejauh-jauhnya.

Dan siramilah Wahai Tuhanku serta tolonglah kami, Dengan lebatnya curahan rahmat- Mu.

Dan akhirilah usia kami dengan husnul khatimah, Dan terimalah kami dengan baik saat kembali kepada- Mu 

Dan terlimpahlah shalawat dari Allah,  Baginya (SAW) yang kepadanya terkumpul segala kebaikan.

Ahmad yang tersuci serta keluarganya, Dan sahabatnya sebanyak pijaran cahaya.

Ya Allah Limpahkanlah Shalawat dan Salam Sejahtera serta Keberkahan Padanya dan Pada Keluarganya,





الدعاء
DO’A PENUTUP

وَ  لَقَدْ   أَشَرْ تُ   لِنَعْتِ   مَنْ   أَوْ صَافُهُ
تُحْيِي  الْقُلُو بَ   تُهَيِّجُ   اْلأَ شْجَانَا
وَ اللّهُ   قَدْ   أَ ثْنَى  عَلَيْهِ    فَمَا  يُسَا
وِ ي  الْقَوْ لُ   مِنَّا  أَوْ  يَكُو نُ   ثَنَانَا
لَكِنَّ  حُبَّا  فِي  السَّرَ ائِرِ   قَدْ دَعَا
لِمَدِ يحِ   صَفْوَ ةِ   رَ بِّنَا  وَ حَدَ انَا
وَ إِذِ  امْتَزَ جْنَا  بِالْمَوَ دَّةِ   ههُنَا
نَرْ  فَعُ   أَيْدِ ي   فَقْرِ نَا  وَ رَ جَانَا
لِلْوَ ا حِدِ   اْلأ َحَدِ  الْعَلِيِّ    إِلهِنَا
مُتَوَ  سِّلِينَ   بِمَنْ  إِلَيْهِ   دَعَانَا
مُخْتَارِ هِ   وَ حَبِيبِهِ   وَ صَفِيِّهِ
زَ يْنِ   الْوُ جُو دِ   بِهِ   اْلإِ لهُ   حَبَانَا
يَا رَ بَّنَا      يَا رَ بَّنَا      يَا رَ بَّنَا
بِالْمُصْطَفَى  اقْبَلْنَا  أَ جِبْ   دَ عْوَ انَا
أَ نْتَ    لَنَا     أَ نْتَ   لَنَا     يَا ذُ خْرَ نَا
فِي  هذِ هِ   الدُّ نْيَا  وَ فِي  أُ خْرَ انَا
أَصْلِحْ   لَنَا  اْلأَ حْوَ الَ   وَ اغْفِرْ   ذَنْبَنَا
وَ لاَ   تُؤَ اخِذْ   رَ بِّ   إِنْ أَ خْطَانَا
وَ اسْلُكْ   بِنَا فِي   نَهْجِ   طهَ  الْمُصْطَفَى
ثَبِّتْ   عَلَى   قَدَ مِ   الْحَبِيبِ   خُطَانَا
أَرِ نَا   بِفَضْلٍ   مِنْكَ   طَلْعَةَ    أَحْمَدٍ
فِي  بَهْجَةٍ   عَيْنُ   الرِّ ضى  تَرْ عَانَا
وَ ارْ بُطْ   بِهِ   فِي   كُلِّ   حَالٍ   حَبْلَنَا
وَ حِبَالَ   مَنْ   وَدَّ  وَ مَنْ  وَ الاَ  نَا
وَ الْمُحْسِنِينَ   وَ مَنْ   أ َجَابَ   نِدَ اءَ نَا
وَ ذَوِ ي  الْحُقُو قِ   وَ طَالِبًا   أَوْ صَانَا
وَ الْحَاضِرِ ينَ   وَ سَاعِيًا  فِي   جَمْعِنَا
هَا نَحْنُ   بَيْنَ   يَدَ يْكَ   أَنْتَ   تَرَ انَا
وَ لَقَدْ  رَ جَوْ نَاكَ    فَحَقِّقْ   سُؤْ  لَنَا
وَ اسْمَعْ   بِفَضْلِكَ   يَا  سَمِيعُ   دُعَانَا
وَ انْصُرْ   بِنَا  سُنَّةَ   طهَ   فِي   بِقَا
عِ  اْلأَ رْضِ  وَ اقْمَعْ  كُلَّ   مَنْ   عَادَ انَا
وَ انْظُرْ   إِلَيْنَا  وَ اسْقِنَا    كَأْسَ   الْهَنَا 
وَ اشْفِ   وَ عَافِ   عَاجِلاً   مَرْ ضَانَا
وَ اقْضِ   لَنَا  الْحَاجَاتِ   وَ احْسِنْ   خَتْمَنَا
عِنْدَ   الْمَمَاتِ   وَ أَصْلِحَنْ   عُقْبَانَا
يَا رَ بِّ    وَ اجْمَعْنَا   وَ أَحْبَابًا   لَنَا
فِي   دَ ارِكَ   الْفِرْ دَ وْسِ    يَا  رَ جْوَ انَا
بِالْمُصْطَفَى   صَلِّ   عَلَيْهِ   وَ آلِهِ
مَا  حَرَّ   كَتْ   رِ يحُ   الصَّبَا   أَغْصَانَا
سُبْحَانَ    رَ بِّكَ   رَ بِّ   الْعِزَّ ةِ    عَمَّا  يَصِفُونَ
وَ سَلاَ مٌ    عَلَى   الْمُرْ سَلِينَ
وَ الْحَمْدُ   لِلّهِ   رَ بِّ  العَالَمِينَ

Maka telah ku Isyaratkan untuk menyifatkan Budi Pekerti (Beliau saw) yang menghidupkan dan mengguncang luruhkan kegundahan, 

Dan Allah Telah Memujinya maka apalah artinya pujian kita dan bagaimana (pujian kita ini) dinamakan pujian,

Akan tetapi cinta kasih dalam sanubari telah menuntut untuk memuji hamba Pilihan Pencipta kita yang telah menyeru kita dengan Kelembutan,

Maka setelah kita berpadu dengan cinta dan kasih sayang (terhadap Nabi saw) maka disinilah kita mengangkat kedua tangan kita yang hina dina untuk berdo’a dengan penuh pengharapan,

Kepada Tuhan Yang Maha Tunggal dalam Ke Esaan Nya, serta Maha Mulia dengan mengambil perantara pada yang telah menyeru kita Kepada Nya,

Hamba- Nya yang terpilih, Kekasih- Nya serta hamba- Nya yang Terkemuka dan sebaik-baik Ciptaan di Alam Semesta yang dengannya (saw) Allah telah menciptakan kita,

Wahai Tuhan kami, Wahai Tuhan Kami, Wahai Tuhan kami, Demi Nabi yang Terpilih Terimalah Kami dan Kabulkanlah Do’a Kami,

Hanya Engkaulah Harapan Kami, Hanya Engkaulah Harapan Kami, Wahai satu-satunya Tempat Memohon dan Harapan di Dunia dan di Akhirat kami,

Perbaikilah Keadaan Kami dan Ampunilah Dosa-Dosa Kami dan Janganlah Engkau Murkai Kami apabila kami berbuat kesalahan,

Dan jadikanlah kami selalu berjalan pada ajaran Nabi Thaahaa (saw) yang terpilih dan kuatkanlah serta tetapkanlah langkah-langkah kami pada jalan yang telah dilalui oleh Sang Kekasih,

Dan Perlihatkanlah kami Demi Anugerah dari Mu, Wajah Nabi Mu dalam Gemilangnya Kegembiraan dengan Pandangan Kasih Sayang serta Keridhoan yang selalu menaungi kami,

Dan ikatlah kami selalu dengan Beliau (saw) dalam segala gerak-gerik kami, dan juga orang-orang yang mengikuti kami dan mencintai kami,

Demikian pula orang-orang yang beramal shalih dan orang-orang yang mendengar da’wah kami, orang yang kami berhutang budi pada mereka dan orang-orang yang memohon nasehat dari kami,

Juga atas para hadirin dan penyelenggara, maka Wahai Allah Inilah kami di hadapan Mu dan Engkau Melihat Kami,

Dan bahwasanya kami Mengharapkan Mu, maka Kabulkanlah Permohonan kami dan Dengarlah demi Kemurahan Mu, Do’a Kami wahai Yang Maha Mendengar,

Dan Pilihlah Kami sebagai Penolong Sunnah Thaahaa (saw) di Seluruh Pelosok Bumi, dan Hancurkanlah semua yang memusuhi kami,

Dan Pandanglah Kami dengan Kasih Sayang Mu dan berilah kami minuman dari cangkir-cangkir (Mahabbah Rasul saw) dan Sembuhkanlah Penyakit yang ada pada kami dengan segera,

Dan kabulkanlah segala hajat kami dan akhirilah hidup kami dengan kebaikan dan jadikanlah kebaikan pula di hari kemudian,

Wahai Allah Kumpulkanlah Kami Bersama Kekasih-Kekasih Kami di surga Firdaus- Mu Wahai yang hanya kepada Nya harapan kami,

Demi Hamba (saw) yang terpilih yang Limpahan Shalawat selalu atasnya dan atas keluarga serta keturunannya sebanyak hembusan angin di pagi hari,

Maha Suci Tuhanmu Pencipta Yang Maha Memiliki Kekuasaan, dari apa yang mereka sifatkan,

Dan Salam Sejahtera atas Para Rasul,
Dan Segala Puji Bagi Allah Pencipta Seluruh Alam,
Baca Selengkapnya....

Antara Ikhtiar dan Doa

Pembicaraan tentang lebih dulu mana antara doa dan ikhtiar seorang manusia dalam kehidupannya menjadi topik yang hangat di kalangan santri di Padepokan Tashowwuf, sehingga ketika ada suatu kesempatan berdiskusi dengan Sang Guru Bijak Bestari,
salah seorang santri menanyakannya kepada Sang Guru.

Santri: Guru, dalam menghadapi suatu masalah, manakah sikap yang sebaiknya kita ambil,
berikhtiar dulu semampu kita lalu menyempurnakannya dengan berdoa?
Ataukah Berdoa dulu dengan keyakinan kemudian dilanjutkan dengan ikhtiar kita?

Guru:Pertanyaan yang bagus anakku… Memang dalam sejarah hidup manusia,
pertanyaan itu senantiasa muncul di kalangan umat,
namun ketika seseorang sudah mencapai kesempurnaan dalam hikmah kehidupan,
niscaya dia akan mengerti tentang persoalan tersebut dengan segala variasinya.
Anakku, sebenarnya kedua sikap itu sama-sama benar, hanya saja masing-masing
memiliki sebab dan kondisi berbeda yang Alloh SWT paksakan supaya kita melakukan itu.
Ketika kita berada pada kondisi kesadaran bahwa kemampuan kita ini
yang merupakan ‘pinjaman serta titipan’ dari Kemampuan Alloh SWT
yang hendaknya kita gunakan secara optimal untuk menyelesaikan permasalahan kita,
maka kita akan bersikap mengupayakan ikhtiar dulu secara optimal,
baru setelah itu menyempurnakannya dengan doa.
Kita saat itu menyadari bahwa sempurnanya doa kita memerlukan syarat ikhtiar dulu.
Maka kita akan berusaha sekuat tenaga kita untuk berikhtiar dulu baru kemudian berdoa.

Sementara pada kondisi yang lain, ketika pengenalan kita terhadap Alloh SWT
yang melingkupi semua aspek Af’al (Perbuatan-perbuatan), Asma (Nama-nama),
Sifat  serta Dzat-Nya sedang menguat sedemikian rupa sehingga menyebabkan kita
menyadari dan meyakini bahwa ternyata Wujud Dia-lah satu-satunya sumber
dari segala daya dan kemampuan di semesta alam ini, termasuk kemampuan kita awalnya
berasal dari pelimpahan Kemampuan dari-Nya, maka sebuah doa yang kita lantunkan
dengan keyakinan tinggi, merupakan awal dari ikhtiar kita dalam kehidupan.
Di sini, sempurnanya doa kita bersumber dari kesadaran akan posisi kita
sebagai ciptaan yang lemah tanpa daya, berhadapan dengan Dia Sang Pencipta
yang Maha Rohman, Pemelihara yang sempurna.

Santri: Lalu bagaimana caranya kita bisa mengetahui bahwa kita sedang berada
pada kondisi yang mana dari kedua hal di atas Guru?

Guru: Anakku, dalam hidup ini kita harus selalu melatih diri untuk senantiasa
melihat peristiwa keluar , maupun ke dalam diri kita dan hendaknya kita jujur
serta dapat menyelaraskan keduanya.
Dengan kejujuran pada diri sendirilah kita secara bertahap akan mengetahui,
kondisi obyektif kesadaran dan keyakinan kita terhadap hidup
dan Dia Yang Maha Hidup, Pengelola kehidupan dan segala hakikat kehidupan ini.
Secara bertahap kita akan dapat mengetahui tahap kesadaran batin apa yang kita miliki.
Untuk itu kita hendaknya kita senantiasa meningkatkan pengetahuan dan pengenalan kita
terhadap Alloh Rabbul-Alamin, serta mencermati suasana batin kita
dalam merespons bertambahnya pengetahuan tersebut.

Santri: Maksudnya bagaimana Guru?

Guru: Karena antara pengetahuan dan sikap batin kita adalah dua hal yang berbeda,
maka meningkatkan pengetahuan adalah satu hal, sedangkan mengendalikan sikap batin
adalah hal yang lain lagi. Kita bisa saja memiliki pengetahuan tentang tauhid yang paripurna
karena pengetahuan itu bisa dipelajari.
Tetapi, pada saat yang sama karena kita tidak bisa memenangkan pertempuran keyakinan
dalam batin kita, bisa saja keyakinan kita tentang Alloh sebagai sumber dari segala sesuatu
(kondisi, masalah, kekuatan, rezeki, dsb.) lemah, akibatnya kita lebih khawatir
terhadap kondisi yang akan menimpa kita dari pada yakin bahwa semua kondisi
yang kita hadapi adalah seizin Alloh dan Dia tujukan sebagai sarana pembelajaran buat kita.
Mari coba kita aplikasikan pada persoalan sehari-hari kita.
Misalnya kita seorang sarjana S-1 Teknik Elektronika yang baru lulus dan belum memperoleh pekerjaan.
Ayat-ayat Al-Quran tentang Alloh sebagai sumber rezeki sudah berkali-kali kita baca,
mengerti bahkan kita hafal.
Tetapi soal memenangkan pertempuran batin akan kecemasan masa depan ekonomi
dan status kita adalah dipengaruhi oleh seberapa pengetahuan kita tentang Alloh itu
meresap di dalam batin kita.

Pikiran kita yang logis membuat pengetahuan yang benar kita pahami,
tetapi dzikir, perilaku akhlak mulia serta kesadaran batin pengakuan kita
terhadap kesempurnaan Alloh-lah yang mempengaruhi kemenangan batin kita
untuk meyakini sesuatu yang kita pahami.
Jadi, pengetahuan tentang rezeki, Alloh sumber rezeki (Ar-Roozaq),
haruslah kita lengkapi dengan latihan batin berupa senang berdzikir di setiap kondisi,
mengamalkan akhlak mulia, agar kekhawatiran masa depan rezeki kita bisa
ditenangkan oleh keyakinan bahwa Alloh Ar-Roozaq sudah mengatur rezeki kita
secara bijaksana dan tak pernah salah bagi.
Dan Alloh-lah yang menjamin kebahagiaan masa depan kita,
selama kita mengikuti Kehendak-Nya. Bila kita membiasakan bertindak demikian dalam hidup ini,
maka secara bertahap keyakinan kita terhadap ayat-ayat berikut ini Insya Alloh akan Alloh kuatkan:

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu
dalam mengerjakannya.
Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kami lah yang memberi rezeki kepadamu.
Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”(QS Thooha 20: 132)

“Sesungguhnya Kami menolong rosul-rosul Kami dan orang-orang yang beriman
dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat),”
(QS.Al-Mu’min 40:51)

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,
’Sesungguhnya segala sesuat berasal dari Alloh, dan sesungguhnya hanya kepada-Nya
kembalinya segala sesuatu.” (QS. Al-Baqoroh 2: 155-156)

“Dan kepunyaan Alloh-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap
di situlah wajah Alloh.
Sesungguhnya Alloh Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: 115)

Nah..anakku, semoga uraianku ini bisa kau mengerti, dan kalian dapat bersikap sesuai
dengan kapasitas keyakinan.
Yang penting kalian jujurlah pada diri sendiri, dan membiasakan menilai tindakan
orang lain dengan kaca mata kalian, sebab sesungguhnya lapis demi lapis kebenaran
dan hikmah itu sedemikian lebar dan di luar jangkauan nalar kita.

Santri: Baik Guru, semoga Alloh membimbing kami dalam memahami serta mengamalkan
doa dan ikhtiar secara benar. Terimakasih atas penjelasan Guru…

Guru: Alhamdulillahi Robbil Alamiin…
Baca Selengkapnya....